Injil yang membebaskan

Peradaban di Papua tidak bisa terlepas dari sejarah perjalanan pekabaran Injil di Papua. 5 Februari 1855 pemuda muda asal Jerman Carl Willem Ottow dan Johann Gottlob Geissler tiba di pantai pasir putih Pulau Mansinam. Proses pekabaran Injil penuh dengan tantangan yang begitu berat. Suka dan duka dilaluinya. Pada akhirnya Ketabahan kedua penginjil ini berbuah manis.

Selain Injil, para misionaris (Ottow & Geissler dan yg datang sesudahnya) dari Eropa membuka sekolah-sekolah agar manusia Papua berpendidikan dan mengatur dirinya sendiri sesuai perkembangan zaman. Juga, selain sekolah dan Injil, mereka (misionaris) juga membuka pelayanan kesehatan yang baik dan sesuai dengan konteks budaya setempat.

Tak bisa dipungkiri bahwasanya pembangunan di Papua dimulai dari pekabaran Injil yg di mulai oleh dua misioanari tadi (Ottow dan Geissler). Karena mereka selain mengabarkan Injil, mereka juga mendidik orang-orang Papua dan menjalankan pelayanan kesehatan. Itulah definisi saya tentang “Injil yang membebaskan”, yaitu Injil yang memuaskan Rohani juga melengkapi kebutuhan jasmani agar hidup orang-orang Papua lengkap/utuh. Itulah pekabaran Injil mula-mula yang di Injilnya dikabarkan sesuai dengan kebutuhan orang-orang papua pada saat itu. Dan saya rasa itu adalah pekabaran Injil yg revolisioner.

Gereja Sekarang buat?

Apakah sekarang Gereja Missioner–Revolusioner? Tidak tau. Pokoknya tak bisa dipungkiri bahwa Gereja di Papua sudah banyak sekali. Terlalu banyak dan mempunyai misi masing-masing. Tapi kok anak-anak Jalanan yang seperti ayam yang tidak punya induk makin banyak, bukankah gereja ada untuk mengayomi, melindungi umat? Dan marah (berteriak/bersuara) ketika umatnya diperlakukan tidak adil? Pertanyaan-pertanyaan itu semua membuat saya teringat (terganggu) dengan tuduhan karl Marx bahwa Agama hanyalah “obat penenang” bagi rakyat. Mungkin mengganggu (atau merasa bodo?)

Gereja sekarang yang menurut saya hanya berfokus (terjebak) pada theologi kemakmuran telah gagal melihat masyarakat (umat) yang menjadi sebuah permainan sistem penguasa yang menindas umatnya. Adanya anak-anak jalanan: yang isap aibon, ganja, narkoba dll adalah sebuah hasil dari kesenjangan Ekonomi-politik bangsa ini. Bukan saja mereka melakukan hal-hal ini (isap aibon, ganja dll) adalah karena masalah jiwa dan rohani mereka semata. Oleh sebabnya Gereja sebagai institut yang membebaskan (sesuai amanat Injil) maka gereja harus melihat persoalan ini dari akarnya, yaitu dengan bersuara tegas mengambil langkah-langkah yang mungkin tidak netral seperti yang dilakukan oleh para imam-imam katolik di Amerika Latin di abad ke 20 yang dengan tegas melakukan perlawanan terhadap dosa sosial yg terdapat dalam sistem negara yang bobrok. Gereja mesti keluar dari zona nyaman dan mulai jelih dengan melihat realitas sosial.

Gereja itu dibumi, dan masih akan terus mengabarkan pemberitaan Injil. Karena Gereja itu dibumi maka gereja itu Rasional, dan tentulah akan terganganggu terus dengan pernyataan Karl Marx “Agama itu Candu Rakyat”
Selamat memperingati hari pekabaran Injil di tanah Papua yang ke 163.

TUHAN YESUS Memberkati kita sekalian

.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s