Rumah itu Kita, Kita adalah Rumah

Rumah bukan sekadar tempat tinggalmu, namun tempat di mana sebuah keluarga (masyarakat) bisa lebih mengenal dan memahamimu.

Ini hanya Ilusi. Tetapi saya sangat mengharapkan bisa menjadi kenyataan. Semua tentang sebuah rumah. Tempat di mana semua makhluk ciptaan Tuhan yang maha kuasa, terutama Manusia yang (beretika) agar bisa duduk tenang dan diami. Setiap kita yang belum memiliki rumah tentunya akan mencari cara dengan menjaring (berusaha) apapun agar bisa memenuhi hal tersebut, bukan?

Kembali ke Ilusi saya, ada sebuah rumah. Entah itu di mana? Yang pasti itu tidak asing di mata saya, mungkin juga seperti dejavu. Rumah itu boleh dibilang cukup tua, ukuran rumahnya sedang (pas-pasan). Namun di rumah itu sudah dan akan terus bertambah banyak pengunjungnya. Tidak lain, karena ada yang menarik perhatian yakni kesederhanaan juga fasilitas yang cukup memadai, walau dengan begitu halaman rumah nampaknya tidak layak, rumput tinggi, jalanan menuju rumah rusak (berlubang-lubang), seolah-olah tidak ada pemilik atau juga pengunjungnya, sangat disayangkan. Iyakan?

Renovasi ulang, merubah atau mempercantik tampilan. Memang tidak mudah, butuh waktu lama juga tenaga yang ekstra dan tidak lain; uang, untuk menuju kesana. Dan untuk mendapatkan uang saja kadang kita masih mesra bermain curung bahkan yang mengenaskan ialah nyawa manusia sekalipun kadang jadi taruhannya, hanya untuk mendapatkan seribu. Intinya dengan cara tidak sehat.

Bagi sebagian pengunjung/tamu itu hal sepele dan tidak harus, seperti halnya mengurusi; halaman rumah yang tidak terurus dan itu tidak menjadi perhatian mereka, tapi justru yang sering dipandang adalah isi dalam rumah tersebut. Makanya wajar kalau tamu yang diundang bahkan tidak sekalipun kebanyakan makan untung. Ah. Pikir mereka yang penting bisa kenyang.

Pertanyaannya sekarang: apakah tuan rumah saat melayani mereka merasa puas? Antara iya dan tidak, “cinta adalah seorang tuan rumah yang penuh kasih sayang kepada para tamunya, walaupun bagi rumahnya yang tak diharapkan merupakan sebuah khayalan dan penghinaan,” kata Khalil Gibran

Tidak sebenarnya tanpa sadar tuan rumah itu sedang dimanfaatkan dengan pola yang begitu rapi sehingga isi rumah itu dikorek sangat mudah dan itu berhasil dibawah pergi tanpa meninggalkan jejak.

Rumah itu kita. Lantas apa yang mesti kita lakukan didalam rumah sebelum menerima tamu? Tidak lain, tidak bukan kita mesti lengkapi segala perabotan rumah (pondisi kita harus kuat) hanya untuk membangun kembali dari yang telah dipandang tidak layak, menjadi lebih layak dan pantas untuk ditempati.

Di mana-mana tidak ada yang namanya tamu mengatur tuan rumah, bukan?

Yang harus kita tahu hari-hari ini ialah tamu sudah/sedang mengendalikan kita, yang mengherankan lagi adalah isi dalam rumah kita pun mereka yang lebih tahu dan itu tidak hanya sepintas tapi secara universal/detail.

Sudah seharusnya kita menjadi tuan diatas tanah sendiri dari berbagai sektor. Harapan dari ilusi saya, semoga besok yang akan terpilih sebagai Bupati Kabupaten Nabire, yang juga adalah tuan rumah, mampu untuk merangkul juga membangun/rehabilitasi rumah yang sudah mulai lapuk dimakan rayap.

3 comments

  1. mrnomen5 · July 27

    Asikkk πŸ™πŸΏπŸ™πŸΏπŸ™πŸΏ

    Like

  2. Ilham Hadirahman · November 18

    izin share ya kaka

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s