Review Film : Into The Wild 2007

Apa yang menjadi standar kebebasan menurut Anda ? Apakah itu berarti kita bebas melakukan apa pun yang kita mau tanpa batasan yang menghalangi?

Kebebasan ini pun seringkali kita maknai dengan bebas. Bebas melakukan apa pun tanpa ada sesuatu yang menghalangi. Bebas adalah kepuasan kita ketika menerjang ruang atau garis batas yang ditetapkan. Bebas menjadi dunia kita sendiri, tanpa ada ini itu yang menpunyai hak dalam dunia kita. Dan film Into The Wild, mencoba memberikan pemaknaan akan kata bebas itu sendiri.

Saya merekomendasikan kepada Anda untuk menonton sebelum lanjut membaca ini. Sebab review ini berangkat dari sudut pandang saya, dan tentu setiap kita miliki sudut pandang yang berbeda. Bukan.

Into the wild adalah sebuah film garapan sutradara sekaligus actor kelahiran Santa Monica, California, Amerika Serikat, 17 Agustus 1960 bernama Sean Penn. Sean pernah meraih penghargaan sebagai actor terbaik Oscar pada tahun 2003 untuk film Mystic River dan tahun 2008 untuk film Milk. Film yang dirilis 21 September 2007 ini pun berhasil meraih 7 nominasi dalam Critics Award tahun 2008.

Film ini bercerita tentang kisah nyata petualangan Chirstopher Johnson McCandless yang hidup di Alaska selama dua tahun, sean dengan sangat menarik menceritakan kisah perjalanan tersebut. Ide ceritanya diangkat berdasarkan novel best seller dengan judul sama yang ditulis oleh Kon Krakauer. Setelah lulus dari Universitas Emory pada tahun 1990, pemuda berusia 22 tahun itu memutuskan untuk pergi dari kehidupan yang selama ini ia anggap sebagai kepalsuaan semata.

Chris memiliki ayah seorang ilmuwan yang jenius dan direkrut oleh NASA untuk menangani desain system radar satelit Amerika sebagai solusi demi menyaingi satelit Sputnik bikinan Rusia. Oleh karena itu, ayah dan ibu Chris lalu mendirikan sebuah lembaga konsultasi yang akhirnya membuai sukses. Namun, kesuksesaan ini berbanding terbalik, ternyata justru membikim orangtua Chris ‘buta’ dan menuai perpecahanan keluarga dan hidup penuh kepalsuan yang membuat Chris tidak senang dan memutuskan untuk berkelana. Berkelana untuk hidup di alam liar tanpa alat komunikasi, uang dan segala kemewahan lainnya.

Chris kemudian melakukan perjalanan dari Atlanta ke Dakota Selatan, ia bekerja sebagai penggiling gandum, mengarungi sungai Colorado sampai Grand Canyon dengan perahu dayung illegal, pergi ke Meksiko, Golfo, ditangkap karena menjadi penumpang illegal di kereta api, lalu ke Salvation Mountion, The Slabs, kemudian ke Alaska. Di dalam perjalanannya Chris berjumpa dengan banyak orang dan mengalami banyak pengalaman yang sangat mengesankan. Ini adalah cerita tentang keluarga, cinta, kedewasaan.

Tidaklah mudah membuat sebuah film dari kisah nyata. Mesti ada penyajian dan komposisi yang tepat dalam meramu penggalan-penggalan cerita yang ada sehingga tidak menjadi sebuah cerita tidak membinggungkan. Sean dengan sangat cerdas menyatukan semua itu. Layanya secangkir kopi hangat yang kita nikmati saat hujan turun basahi bumi, panduan yang membangun Into The Wild sungguh nikmat terasa. Alur yang disajikan tidak secara linear, ada juga alur campuran yang akan mengajak kita untuk menelisik juga memahami sebab dan akibat juga symbol dari pesan-pesan yang ingin disampaikan. Cerita ini dibagi menjadi tiga babak yang tentunya akan membuat penonton lebih tertarik dan mudah tuk dipahami jalan ceritanya. Dengan konsep ini, dijamin tidak akan ada kebosanan di awal, tengah, maupun akhir dari film.

Actor Emile Hirsh dengan sangat baik memainkan karakter Chris. Ia mampu menyelami pribadi Chris dan menampilkan Chris yang sebenarnya, pemuda yang masuk ke alam liar. Sepanjang cerita kita akan diajak merasakan bahagia melihat petualangan seru dari Chris dalam menjalani kehidupannya di berbagai tempat. Tidak berlebihan dan tidak kurang sedikit pun. Hamper sebagian besar terasa alami, seperti pemandangan alam yang juga dapat kita nikmati. Sungguh indah, sungguh sangat alami.

Adapula yang menarik dari film ini yakni kita akan dibawa pada sebuah perjalanan menuju kedewasaan. Selain itu, kita juga ada melihat quote yang ‘berkata-kata’ dengan indah penuh dengan makna. Bukan menggurai, tapi malah tuntun langsung untuk secara bersama belajar dari petualangan Chris yang penuh warna-warni. Film ini bahkan sampai terakhirnya ditutup oleh sebuah kalimat dari catatan Chris yang sangat menggugah yakni ‘HAPPINESS ONLY REAL WHEN SHARED”

5 comments

  1. daunwoka · September 19

    Ini kisah yang bagus

    Liked by 1 person

  2. Pingback: Mengambil kembali Kesendirian | Kurang dari Saya, Lebih dari Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s