Ruang Sunyi dan Seorang Mantri tua

“Kesehatan adalah anugerah terindah yang terkadang lupa untuk kita syukuri”

Belum lama ini saya berkunjung ke salah satu tempat untuk pemeriksaan kesehatan/praktek. Tempatnya, masih belum diketahui oleh orang banyak, kecuali orang yang sering pergi untuk periksa kesehatan lalu menyampaikan dari mulut ke mulut. Tempatnya di Kalibobo bersebelahan dengan gedung rektorat Universitas Satya Wiyata Mandala (Uswim) Nabire Papua.

Tempatnya begitu sunyi. Tak ada satu orang pun dalam ruang itu. Saya orang pertama saat itu sebagai pengunjung. Setelah mendengar suara – Mbah Suti keluar dan menyapa. Ada bapa ya? tanya saya. Oh bapa dirumah. Mau periksa ya? Iya Mbah. Tunggu saya telfon setelah telepon masuk Mbah berikan hape lalu saya bicara perihal keluhan saya : jawab bapa anak tunggu bapa datang. Jarak dari rumah agak jauh, namun beliau tanpa memikirkan itu lalu datang. Bukan perkara uang, tapi lebih pada tenaga, waktu untuk melayani – kenapa saya bilang begitu nampaknya semangat untuk melayani orang itu masih tetap sehat dalam jiwanya sebagai Mantri. 

Beliau tiba langsung menyuruh saya timbang dan ukuran tinggi badan sebelum periksa kesehatan lainnya. Uniknya, beliau memiliki alat yang sederhana tapi dapat melihat segala sakit penyakit yang tersembunyi dalam tubuh. Sambil periksa beliau bercerita – anak dulu itu orang mau periksa saja takut/malu pada orang lain, kalau sekarang tidak, tapi sayang belum banyak yang sadar. Sadar kenapa bapa? Tanya saya.

Ada tiga macam tipe orang ;
1. Orang yang sehat
2. Orang yang sehat tapi berbahaya
3. Orang yang sakit

Di Papua lebih khusus di Nabire ini kalau bapa mau bilang orang yang sehat itu 5%, sehat tapi berbahaya 70 % sedangkan yang sakit 40%. Tanpa sadar orang lakukan aktifitas, tapi dalam tubuh sedang merontak butuh pertolongan. Selama kami tidak sadar dan tidak mau periksa, kami akan tetap mati pelan-pelan. Jangan salahkan orang atau menuduh bahwa itu perbuatan orang. Ya boleh saja selama itu benar. Tapi lebih dari itu, periksa agar tubuh tetap tenang dan sehat.

Kebetulan beliau pernah mengabdi di Puncak jaya Mulia – sebagai Kepala Dinas kesehatan, sewaktu saya masih kecil – mama saya sering bawa dan periksa kesehatan ke beliau. Saya lalu mengenalkan orang tua saya pada beliau dan benar beliau kenal dan tanya perihal keadaan mama dan bapa, masih sehat? Masih bapa mereka di rumah. Oh iya, nanti sampaikan salam pada mereka. Siap bapa akan saya sampaikan, jawab saya.

Setelah periksa beliau sampaikan jenis-jenis obat yang harus diminum. Ada satu obat yang jarang dijual di apotek –  untungnya beliau ada kenalan sama apoteker. Anak kasih uang bapa pergi beli setelah melihat uang yang saya kasih lebih beliau bilang apabila lebih bapa akan bawa kembaliannya. Oke bapa, saya tunggu. Bapa disini bisa urut ya? Bisa, Mbah ini bantu urut, saya pergi belikan obatnya dulu. 

Bapa tiba, ini obatnya, ini uangnya tadi anak kasih itu kelebihan. Sungguh inikah pelayanan yang sejati.! Pikir saya.

Hampir lupa – Jhon dimara adalah nama beliau.

Boleh kita bersusah-payah mencari seribu. Tapi ingat, tanpa kesehatan yang baik seribu tidak mungkin ada digenggam kita. Sebelum terlambat, ayo periksa kesehatan dari sekarang dan sayangilah tubuhmu.

One comment

  1. Yeromi · February 9

    Unik tapi juga menarik. Salute kawan atas tulisannya!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s