Pasar

Seorang penulis sejarah ekonomi membayangkan sebuah dialog. Syhdan, katanya, ada seorang konsultan Barat yang memberi nasihat kepada sejumlah pemimpin Afrika tentang bagaimana caranya memecahkan problem ekonomi mereka. Nasihatnya ringkas : aturlah masyarakat Anda menurut ekonomi pasar.

‘’baiklah,’’ jawab orang-orang Afrika itu. ‘’ lalu apa yang harus kami suruhkan kepada rakyat? Bagaimana kami membagi-bagi tugas mereka?”

‘’loh,’’ jawab si konsultan, ‘’ tak usah disuruh-suruh segala.

Dalam ekonomi pasar, tak seorang pun diberi tugas. Gagasan inti dari suatu masyakat pasar ialah bahwa tiap orang punya kebebasan untuk memutuskan tugasnya sendiri.’’

‘’Mana mungkin?” Tanya para pemimpin Afrika itu, yang terbiasa dengan masyarakat tradisional, di mana tiap orang diatur oleh pemimpin adat. “ Anda mau biarkan rakyat memutuskan soal demikian sendiri saja? Bagaiman kalau mereka berbuat salah? Dan di Badu tak mau bekerja di lading dan Si Gagu tak lagi jadi penjaga took?”

“Ssst,’’ suhut sang konsultan, ‘’ tenang. Dalam suatu masyarakat pasar bebas, semua pekerjaan akan terisi, karena orang-orang itu sendiri akan merasa lebih beruntung untuk bekerja di bidang ini dan bidang itu.

Dengan kata lain, sang konsultan bicara tentang ‘’ Tangan yang Tak Terlihat.’’ Dalam gagasan Adam Smith-tangan yang mengatur dengan sendirinya segala perilaku ekonomi orang-orang yang di masyarakat.

Pasar bebas dengan Tangan yang Tak Terlihat? Orang Afrika dari negeri berkembang itu parcaya akan banyak hal, tapi bukan takhayul yang satu ini.

Dan tampaknya mereka tak sepenuhnya salah. Sang konsultan Barat mungkin ingin mengesankan bahwa dengan ekonomi pasar nasyarakat pun bebas dan demokratis. Bukankah di sana orang tak diatur-atur oleh orang lain yang berkuasa?

Benar. Tapi memang terlalu tergesa-gesa untuk mempersamakan system yang berorientasi pada pasar dengan demokrasi. Dorongan demokratis bagaimanapun menghendaki persamaan. Tapi tuntutan persamaan ini melongsorkan impian tentang suatu stabilitas yang sendi pokoknya ialah tetapnya perbedaan tempat (dan perbedaan hasil), antara si buruh dan si pemilik modal.

Karena itulah, untuk menyontek kata-kata seorang professor yang menulis Politics and Markets di tahun 1978, “ Sistem yang berorintasi pada pasar, agar berhasil, mungkin memerlukan begitu banyak pengaruh bisnis….” Karena itulah, kata professor Charles E Lindblom pulu, “Perusahaan swasta yang besar ganjil cocoknya dengan teori demokrasi. Bahkan, memang tidak cocok.’’

Di satu pihak system pasar bebas itu punya stuktur otoritas politik. Di lain pihak, suatu system bisnis, dengan nilai-nilainya, syarat-syaratnya dan tingkah lakunya yang menyaingi (serta juga melengkapi) otoritas pemerintahan. Siapa yang unggul, tak bisa ditentukan secara pasti dan secara tetap. Tapi orang memang bisa bicara tentang suatu kekuatan lain, yang tak tampak bagaikan gempa laut yang melontarkan gelombang: kekuatan gairah menuasia untuk memperoleh tambahan kekayaan tak putus-putusnya. Kita tahu bahwa yang berorientasi pada pasar menganggap sah dan sehat bergairah seperti itu. Kita pun tahu bahwa system yang lebih mau mengatur ekonomi dengan komando-seperti di negeri sosialis-ingin mengendalikannya, dan tak berhasil. Yang sering kita tak tahu ialah bahwa gairah yang bisa disebut hasrat kemajuan, atau juga keserakahan itu, ternyata tak juga bisa diatur oleh Tangan Yang Tak Terlihat.

Filosofi Bertrand Russel pernah mengatakan bahwa seandainya orang digerakkan oleh kepentingan diri sendiri, ‘’seluruh umat manusia akan bekerja sama.’’ Repotnya, menurut Russel manusia tak didorong oleh kepentingan diri sendiri, ‘’ kecuali dalam kasus beberapa orang suci.’’ Aneh atau tak aneh ucapan ini, anggapan dasarnya ialah kepentingan diri sendiri manusia niscaya rasional tiap pamrih niscaya masuk akal. Tapi benarkah? Bumi toh jadi rusak, kemiskinan tak terpedulikan, dengan Reagan dan lain-lain menghitung-hitung persenjataan. Manusia tidak jelek, memang. Tapi ketidakpastiaan dan keserakahannya bisa mengerikan.

Tulisan ini awalnya di tulis pada Buku Catatan Pinggiran 2 hal. 33. Saya merasa penting untuk dipublikasikan disini untuk kepentingan arsip dan pendidikan.

Aku Tidak Fomo

Tuhan: “Percayalah kepadaku”
Aku: “Jika aku tak percaya?”

Tuhan: “Kamu akan Kuhukum masuk neraka”

Umat ber-Agama: “Masuklah ke agamaku”
Aku: “Jika aku beragama lain?”
Umat ber-Agama: “Kamu akan kubenci dan kumusuhi”

Begitukah “cara kerja” Tuhanmu dan agamamu?
Lantas DI MANA maha kasih dan cinta kasih yang kau lantangkan?

Mengambil kembali Kesendirian

Pada masa yang makin hiruk-pikuk akibat keterhubungan kita melalui internet, kesendirian menjadi sumber daya yang langka dan agaknya teracam. Tentu kini saat yang tepat untuk kita mengambil kembali waktu untuk menyendiri.

Bagi sebagian orang yang mengenal saya, mungkin sudah tahu kalau saya sangat menyukai kesendirian. Saya sering mengamati keramaian dari jauh dan itu membuat saya tertarik. Sebab saya ingin mencoba memaknai interaksi sosial yang terjadi dan berpikir mengenai hal-hal yang menurut kebanyakan orang awam tidak masuk akal sama sekali. Atau mungkin saya yang anti-sosial?

Jelasnya, kita berhak memilik waktu untuk kesendirian ? Apalagi di zaman ini, sudah dan akan terkikis secara perlahan-lahan. Padahal, waktu ini adalah waktu yang amat penting untuk membuat kita unik menjadi diri kita sendiri. Bukan berarti saya menginginkan kita semua pindah Agama ke hutan dan menikmati alam seperti Christofer. Juga bukan berarti kita harus kembali ke zaman pra-internet dan mengorbankan segala kemudahan hidup yang telah diberkahi internet tersebut. Bukan berati, kita harus menjadi anti-sosial dan membelakangi interaksi sosial sama sekali.

Di atas ini adalah grafik yang disajikan oleh Adam Alter dalam TED Talknya, dia menunjukkan kalau ‘waktu putih’’, yakni waktu yang kita miliki untuk bisa benar-benar menjadi diri kita sendiri, itu nampaknya makin berkurang. Alasan utamanya adalah kita masih terpaku pada layar dan hidup kita mulai bergantung pada dunia maya. Interaksi tambahan, serta desain media sosial dan semua aplikasi yang terdapat di ponsel anda sekalian, secara tidak sadar sudah mulai banyak menyita waktu pribadi kita.

Kenyataan ini dikritik oleh Michael Harris dalam bukunya yang berjudul ‘Solitude’. Harris menganggap waktu sendiri sebagai sebuah sumber daya yang semakin langka. Ditambah lagi manusia modern seolah lupa cara memanfaatkan waktu sendirinya dengan maksimal. Sehingga banyak yang mulai akrab dengan stress akibat begitu banyaknya pekerjaan.

Kapan terakhir kalinya anda melamun?

Padahal, ketika kamu melamun, biasanya inspirasi timbul. Kini, banyak dari kita yang sering dengan nekat bahkan sedang boker sekalipun masih menatap hape. Menurut harris, terdapat sebuah stigma sosial (setidaknya pada masyarakat Amerika) yang berlandaskan etos Protestan yang dikemukakan Max Weber terhadap orang-orang yang masih suka dengan melamun. Dalam kultur Protestan, siapapun yang tidak bekerja, tidak akan mendapatkan apa-apa. Melamun bukanlah sesuatu yang produktif, sehingga dianggap perbuatan aneh. Stigma serupa umumnya kita jumpai di masyarakat kita. Pernah kah, anda menonton iklan yang bilang kalau kita melamun nanti kesembet setan? Sekali lagi, tulisan ini tidak serta-merta menganjurkan kamu pindah agama ke gubuk di tengah hutan demi menghindari interaksi sosial seperti Christofer pada film ‘Into The Wild’. Pun saya sadar kalau tidak semua orang akan memahami ‘kesendirian’ seperti saya. Tapi tentu bagi mereka yang tertarik, akan mengambil kembali ‘waktu putih’ mereka.

Kalian bisa mulai dari hal-hal kecil seperti tidak membawa ponsel ke kamar mandi, melihat ke luar jendela di sela-sela pekerjaan, tidak melihat ponsel saat makan siang, dan yang paling utama, tidak melihat ponsel saat berjalan. Tengoklah ke atas, ke samping, ke depan dan perhatikan dunia resolusi tinggi yang sedang kita tinggali.

Baca Juga : Perjalanan Tanpa Tujuan

Untuk yang terakhir, saya berharap lebih banyak orang yang akan melakukannya. Walaupun itu kebebasan bagi setiap orang, namun yang jelas saya sangat amat benci kalau sudah harus berjalan lalu melihat orang yang bungkuk dan ketika duduk bersama malah memilih menatap ponselnya. Lebih kesal lagi kalau mereka datang dari arah berlawanan dan berjalan zig-zag. Jadinya lebih susah tuk menghindar. Bisa kok ke pinggir dulu, balas chat dan terus berjalan lagi!

Review Film : Into The Wild 2007

Apa yang menjadi standar kebebasan menurut Anda ? Apakah itu berarti kita bebas melakukan apa pun yang kita mau tanpa batasan yang menghalangi?

Kebebasan ini pun seringkali kita maknai dengan bebas. Bebas melakukan apa pun tanpa ada sesuatu yang menghalangi. Bebas adalah kepuasan kita ketika menerjang ruang atau garis batas yang ditetapkan. Bebas menjadi dunia kita sendiri, tanpa ada ini itu yang menpunyai hak dalam dunia kita. Dan film Into The Wild, mencoba memberikan pemaknaan akan kata bebas itu sendiri.

Saya merekomendasikan kepada Anda untuk menonton sebelum lanjut membaca ini. Sebab review ini berangkat dari sudut pandang saya, dan tentu setiap kita miliki sudut pandang yang berbeda. Bukan.

Into the wild adalah sebuah film garapan sutradara sekaligus actor kelahiran Santa Monica, California, Amerika Serikat, 17 Agustus 1960 bernama Sean Penn. Sean pernah meraih penghargaan sebagai actor terbaik Oscar pada tahun 2003 untuk film Mystic River dan tahun 2008 untuk film Milk. Film yang dirilis 21 September 2007 ini pun berhasil meraih 7 nominasi dalam Critics Award tahun 2008.

Film ini bercerita tentang kisah nyata petualangan Chirstopher Johnson McCandless yang hidup di Alaska selama dua tahun, sean dengan sangat menarik menceritakan kisah perjalanan tersebut. Ide ceritanya diangkat berdasarkan novel best seller dengan judul sama yang ditulis oleh Kon Krakauer. Setelah lulus dari Universitas Emory pada tahun 1990, pemuda berusia 22 tahun itu memutuskan untuk pergi dari kehidupan yang selama ini ia anggap sebagai kepalsuaan semata.

Chris memiliki ayah seorang ilmuwan yang jenius dan direkrut oleh NASA untuk menangani desain system radar satelit Amerika sebagai solusi demi menyaingi satelit Sputnik bikinan Rusia. Oleh karena itu, ayah dan ibu Chris lalu mendirikan sebuah lembaga konsultasi yang akhirnya membuai sukses. Namun, kesuksesaan ini berbanding terbalik, ternyata justru membikim orangtua Chris ‘buta’ dan menuai perpecahanan keluarga dan hidup penuh kepalsuan yang membuat Chris tidak senang dan memutuskan untuk berkelana. Berkelana untuk hidup di alam liar tanpa alat komunikasi, uang dan segala kemewahan lainnya.

Chris kemudian melakukan perjalanan dari Atlanta ke Dakota Selatan, ia bekerja sebagai penggiling gandum, mengarungi sungai Colorado sampai Grand Canyon dengan perahu dayung illegal, pergi ke Meksiko, Golfo, ditangkap karena menjadi penumpang illegal di kereta api, lalu ke Salvation Mountion, The Slabs, kemudian ke Alaska. Di dalam perjalanannya Chris berjumpa dengan banyak orang dan mengalami banyak pengalaman yang sangat mengesankan. Ini adalah cerita tentang keluarga, cinta, kedewasaan.

Tidaklah mudah membuat sebuah film dari kisah nyata. Mesti ada penyajian dan komposisi yang tepat dalam meramu penggalan-penggalan cerita yang ada sehingga tidak menjadi sebuah cerita tidak membinggungkan. Sean dengan sangat cerdas menyatukan semua itu. Layanya secangkir kopi hangat yang kita nikmati saat hujan turun basahi bumi, panduan yang membangun Into The Wild sungguh nikmat terasa. Alur yang disajikan tidak secara linear, ada juga alur campuran yang akan mengajak kita untuk menelisik juga memahami sebab dan akibat juga symbol dari pesan-pesan yang ingin disampaikan. Cerita ini dibagi menjadi tiga babak yang tentunya akan membuat penonton lebih tertarik dan mudah tuk dipahami jalan ceritanya. Dengan konsep ini, dijamin tidak akan ada kebosanan di awal, tengah, maupun akhir dari film.

Actor Emile Hirsh dengan sangat baik memainkan karakter Chris. Ia mampu menyelami pribadi Chris dan menampilkan Chris yang sebenarnya, pemuda yang masuk ke alam liar. Sepanjang cerita kita akan diajak merasakan bahagia melihat petualangan seru dari Chris dalam menjalani kehidupannya di berbagai tempat. Tidak berlebihan dan tidak kurang sedikit pun. Hamper sebagian besar terasa alami, seperti pemandangan alam yang juga dapat kita nikmati. Sungguh indah, sungguh sangat alami.

Adapula yang menarik dari film ini yakni kita akan dibawa pada sebuah perjalanan menuju kedewasaan. Selain itu, kita juga ada melihat quote yang ‘berkata-kata’ dengan indah penuh dengan makna. Bukan menggurai, tapi malah tuntun langsung untuk secara bersama belajar dari petualangan Chris yang penuh warna-warni. Film ini bahkan sampai terakhirnya ditutup oleh sebuah kalimat dari catatan Chris yang sangat menggugah yakni ‘HAPPINESS ONLY REAL WHEN SHARED”

Sabtu di Kebun

“Berkebunlah seolah-olah anda akan hidup selamanya” Thomas Moore

Hari ini sekitar pukul 07:22, tidak seperti biasa saya bagun dari tidur agak tempo. Saya keluar dari kamar lalu menimbah air mineral, tidak seperti biasa yang menyeduh kopi dan masuk pada ruangan tempat dimana saya bekerja sekalian tempat menuangkan segala rasa yang pernah ada, juga yang akan ada. Tentunya, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka lebtop lalu menyambungkan bluetooth pada speaker lalu memutar lagu, kali ini saya memilih lagu country slow barat. Biasanya di pagi hari saya suka memutar lagu bergenre folk yang dinyanyikan oleh Ikshan Skuter salah satu artis kesukaan saya dan tak lupa Mambesak vocal grup dari Papua, yang sering menyanyikan lagu tentang perjuangan pokoknya semua menyangkut dengan rasa.

Perjalanan

Tidak lama kemudian mama saya tanpa mengetuk pintu dia masuk lalu mengajak saya ke kebun sekedar mengecek lokasi katanya, saya pun langsung mengiyakan, berdiri dari bangku dan siap. Kami memakai kendaraan beroda dua. Ternyata dia sudah siap lebih dulu dengan menaruh bibit daun ubi di atas motor. Mama saya yang mengemudi, setelah lepas dari rumah di pertengahaan jalan kami pun singgah di Waharia, untuk membeli sarapan, saya turun dan membungkus nasi. Setelah itu, sebelum naik motor, Ko sudah rokok beli ka? Tanya mama, belum nanti di dekat kebun saja jawab saya. Soal pengertian pasti setiap mama sama, apalagi kepada anak pertamanya, bukan. Dengan perlahan kami meluju menuju kebun di Kimi. Sesampai di Kimi mama meminggirkan motor dan bilang beli rokok di sebelah situ sudah, saya kemudian turun lalu menyeberang hendak membeli sebungkus rokok, setahu saya hanya 25 ribu dalam sak celana, setelah masuk dan tanya perihal rokok surya 16 eh tau-tau harganya 26 ribu penjualnya bilang harga sudah naik setelah melihat wajah saya yang agak heran, karena sudah malas untuk singgah lagi sebab barang bawaan banyak yakni bibit sayur ubi, saya kembali memerikasa sak celana dengan perlahan-lahan, eh syukur ada 2 ribu yang terselip di dalam sak. saya pun beli dan kami berdua lanjut.

Kebun

Sesampainya dikebun sebelum menurunkan barang bawaan kami langsung di sambut dengan sapaan “Selamat pagi” dari salah satu orang yang mama percayakan untuk tinggal di sebuah pondak yang berpanggung. Dia berasal dari Tanah Toraja merantau jauh-jauh ke sini, kami sebut dia om antoh, mungkin om adalah panggilan yang akrab dan paling cocok. Sebab terlepas dari itu benar juga karena mama lebih dulu mengenal dia dan beberapa orang Toraja yang tinggal sebagai tetangga di sini (Kimi) dan itu kami anggap sebagai om.  Sedari pagi hari beliau memberi makan ayam sekaligus persiapkan ayam jagonya, sebab akhir-akhir ini mereka membikin pertarungan aduh ayam persis di sebelah pondok kami. Hampir setiap hari. Dan pada hari sabtu dan minggu adalah pertarungan yang paling sengit dengan penonton atau orang yang hendak mempertaruhkan ayam, dan banyak yang akan berdatangan, kata om antoh.

Adik-adik saya kadang ke sana (Kimi) untuk tangih uang palang bagi yang hendak masuk, ada yang berpikir kenapa harus di palang, saya anggap hal itu wajar karena jembatan untuk menghubungkan jalan ke lokasi tempat pertarungan ayam itu adalah usaha dari mama saya yang sedari dulu membikin dengan memakai uang pribadinya.

Tidak hanya orang Toraja disana ada juga orang Bugis, Batak dan lainnya yang gemar dengan pertarungan ayam jago atau kasarnya pertaruhan judi. Judi memang, sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang dan tentu untuk melarangnya tidaklah mudah, sebab keamaan mereka sangatlah kuat.  Sama persis dengan penjualan minuman beralkohol dan judi lainnya. Terutama di Papua sini.

Bekerja sembari Basa-basi

Saya dan mama mulai masuk ke kebun tempat dimana kami akan bekerja. Saya membawa bibit dan bungkusan sarapan. Kami mulai dengan berdoa yang di pimpin mama, kami lalu sarapan sehabis sarapan saya memilih untuk melihat-lihat lokasi kebun dan membiarkan mama membersihkan sedikit tempat sebelum kami mencangkul dan menanam beberapa jenis bibit yang mama bawa.

Sekembalinya saya dari pantau-memantau layaknya pengawasan, saya mengambil alat cangkul lalu mencangkul dan mama mulai masukan bibit-bibit sayur ubi-ubian itu. Sembari masukan bibit, saya bilang ke mama memangnya harus berpasangan ka, iya biar mereka bisa kawin satu sama lain dan menghasilkan ubi, sama halnya dengan manusia juga kan, dengan Bahasa yang senda garau saya dan mama pun tertawa, mama tunjuk kearah sayur yang sudah dia tanam dan bilang itu bibit ubi dari Jakarta dua tahun lalu yang mama bawa, Ko masih ingat ka ? Tanya mama, oh iya betul jawab saya dengan heran. Katanya, waktu itu dia tanam dan tunasnya sudah dia tanam dan itu sebagiannya.

Adapula yang diceritakan. Pokoknya banyak, dia orangnya memang suka bicara. Saya yang suka dengan mendengar atau lebih tepatnya pendiam. Eh mungkin begitu. Dia mulai menanyakan perihal orang yang sedang saya dekati, dan hal itu paling sering dia tanyakan, saya memilih diam tidak meresponnya, dia yang melihat saya lalu memilih untuk membicarakan hal lain, kali ini dia menceritakan kehidupan orang tuanya ; bapanya yang adalah (tete) saya, tentang kehidupan dulu yang berkecupun namun beliau (tete) mampu berpikir hal-hal jauh kedepan, layaknya orang yang berpendidikan. Ada hal yang paling mengesankan tetapi hal itu tidak akan saya tulisan disini, akan saya buat khusus besok-besok-besok.

Kerja sembari bicara. Saking asiknya tidak terasa matahari sudah berada diatas ubun-ubun kepala, menandakan hari sudah siang. Pekerjaan kami sisa setengah lagi, saya mengambil hape lalu memfoto hasil kerja. Biar kentara orang kerja ka ini. Lebih dari itu agar ada cerita yang bisa diceritakan, terutama kepada penerus saya nanti. Iyakan. Pekerjaan ini sebenarnya tidak terlalu membuang tenaga, tapi saya capeh ya maklum belum terbiasa perihal berkebun, semoga ini menjadi awal yang baik untuk saya. Berkebun ternyata asik dan menyenangkan juga hanya saja harus bisa biasakan agar terbiasa.

Duduk Sebelum Pulang

Pukul 13.14 pekerjaan kami selesai. Kami mendekati pondok, menaruh barang bawaan seperti noken atau tas rajutan yang kebanyakan mama-mama asli Papua rajut, santai sekedar menghirup udara segar di para-para yang di payungi pohon gerseng dan jeruk yang sedari dulu saya tanam. Tidak lama kemudian om antoh dan kawannya tiba dengan membawa gergaji dan martelu, katanya habis bantu membetulkan tempat pertarungan ayam, demi mendapatkan sebungkus rokok. Ini rokok tawar om antoh pada saya, jawab saya ada om makasih. Pondok yang berpanggung ukurannya tidak terlalu besar, tapi muat untuk menampung satu keluarga kecil. Saya mencuci tangan dan kaki lalu menuju ke belakang tempat kandang ayam dan babi berdiam, sekedar melihat-lihat.

Tempat di Kimi cukup bagus dan tenang, walaupun sedikit dekat dari jalan raya Samabusa, jalan yang menuju Pelabuhan juga Lagari. Lagari adalah tempatnya orang-orang tranmigrasi. Disana banyak orang transmigrasi salah satunya orang-orang NTT bekas jajahan Portugis kala itu.

Kami berempat duduk basa-basi agak lama, sembari basa-basi kawan dari om antoh mengeluarkan sebotol minuman (Vodka), sepertinya itu juga hadiah dari keringat mereka yang tadi dan setelah melihatnya beberapa menit kemudian mama mengajak saya untuk pulang dan kami dua mulai bergegas. Entah kenapa? Mungkin sudah selayaknya kami pulang. Kali ini untuk pulang saya yang memboncengi mama.

Tanah tentunya setiap kita punya. Jaga dan rawat mungkin akan menjadi pilihan yang tepat ketimbang jual walaupun itu mendesak setidaknya berinvestasilah dari pada melepaskan begitu saja. Gunakan tanah untuk menghidupkan!

Kau Yang Menunggu

Ku lihat bayanganmu di sana

Pada kabut senja

Diantara ilalang jingga

***

Senyumanmu mengusik

Kering ranting yang berbisik

Di ujung dahan tak berisik

***

Lalu luruh

Kau terjatuh

Dalam simpuh tanpa keluh

***

Kau menunggu

Gugusan awan membawa rindu

Mendungkan membawa hujan

Rintikan membasahi kekeringan

***

Meski takdir masih misteri

Kau menanti dengan pasti

Serahkan semua pada waktu

Dimana suratan kan jadi penentu

Iki P, Nabire 16 Oktober 2020

Hadiah Ulang Tahun Perdana

Terlambat membuat tulisan ini. Akh, bukan hal baru bagi aku, sebab ini sudah sering terjadi. Dan tentunya tidak jadi soal mumpung saat bersamaan aku sedang merayakan ulang tahun dan berusaha menikmati kesendrian juga keindahan dunia, di hari istimewah. Hari dimana aku hadir dalam dunia yang kelam, penuh tanda tanya.

Aku buka mata di waktu pagi yang cerah, masih di sini di tempat terindah sekaligus tempat kelahiranku.

Subuh dini hari. Yang begitu hening membikin atau terus terdiam dan merenungkan setiap detail hidup yang sudah dan akan berlangsung.

Malamnya, entah mengapa aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Seperti ada yang datang menganggu. Tentu ini tidak seperti biasanya. Aku memilih untuk duduk lalu membakar sebatang rokok, untungnya ada yang tersisa yakni isi dari sebotol minuman. Tipis-tipis aku menyeruput dengan harapan dapat mengusir kegelihasan juga kecemasan itu.

Aku di dalam ruang ini, tempat dimana aku sering menyendiri juga berkelana, intinya paling ternyaman. Tapi akhir-akhir ini kenyamanan itu mulai pergi tanpa pamit. Dan pada momen-momen tertentu tinggal sunyi.

Kala itu, terang timbul agak lamban. Aku yang belum tertidur dengan baik, sebelum keluar dari pintu, adik perempuan saya mengucapkan selamat ulang tahun, dengan begitu cepat dan spontan dia lalu pergi. Seakan-akan aku sedang bermimpi, seketika itu cahaya matahari mulai masuk terlihat dari celah-celah dinding kayu lusuh.

Tanpa ucapan apapun dari keluarga lainnya. Aku bergegas, sebab mereka sibuk dengan urusan masing-masing, keluar dari pagi-pagi betul.

Layaknya bayi yang baru melihat dunia, aku begitu lemas rasa-rasanya tidak mau bergerak. Tapi ada daya, ada yang perlu diselesaikan. Seperti biasa masalah yang kadang membikin aku jengkel juga resah hari-hari ini, yakni ; soal berurusan dengan pelayan administrasi pada salah satu kampus, dimana tempat aku menimbah ilmu. Tetapi sayang yang ada hanya menimbah seribu, hingga ilmu pergi begitu saja. Tidak akan aku bahas soal ini di sini, mungkin nanti lain waktu.

Aku bergegas menuju kampus. Kembali lagi aku menunggu-nunggu orang yang bersangkutan. Hampir tiap hari, seperti mahasiswa baru yang penuh dengan semangat yang hendak menimbah ilmu. Amarah seketika itu mulai naik ke otak yang tak dapat lagi di kontrol. Walaupun kadang orang bilang menunggu itu indah atau “Sabar itu subur”, iya benar. Tetapi kali itu, bagi ku tidak akan berlaku, begitu lama.

Pulang menjadi jawaban yang tepat. Sesampai di rumah aku rebahkan badan dan menyalakan speaker dengan volume yang pas-pasan, belum juga dapat tidur. Terdengar alunan suara dari kejahuan dari adik-adikku yang menyanyikan lagu “Selamat ulang tahun” dengan membawa kue. Aku duduk, terdiam juga terharu setelah melihat kue hasil bikinan adik perempuan yang kedua, sederhana dengan berbentuk hati. Kita bersama nyanyi dan rayakan, walaupun apa adanya itu sudah berhasil membuat aku menangis dalam diam. Terlalu istimewah.

Adik perempuan kedua kembali mengejutkanku dengan memberikan sebuah bingkisan kado. Sebelum menebak isinya, dia lalu keluar dengan mengucapkan kembali, selamat ulang tahun kakak. Aku mulai membuka kado itu, eh tahu-tahu adik sedang melihat dari sela-sela jendela setelah aku membalikkan wajah padanya dia pun lari. Tidak tunggu lama dia kembali duduk disampingku. Aku keluarkan hape untuk foto kadonya sebelum membuka. Dengan sentak dia memeluk dan ajak berselfie, sederhana dengan ukuran bingkisan yang tidak terlalu besar, yang sudah bisa membuat aku ketahui isinya.

Tiba-tiba dengan cepat, adikku perempuan satunya datang. Setelah melihat isi kado dari adik perempuannya ; dia bilang adoo, kenapa hadianya itu. Harusnya yang lain, jangan rokok nanti kaka susah berhenti merokok kalau manjakan dengan itu, seketika itu kami pun tertawa, dan aku merespon itu dengan mengajak mereka dua untuk berselfie bersama.

******

Kampus, mampus lagi

Hari istimewah tak terasa berlalu dengan cepat. Besoknya aku kembali tentunya dengan membawa amarah yang sama pada urusan yang sama pula. Tunggu-menunggu sepertinya akan menjadi sahabatku.

Tapi kali ini agak sedikit berbeda. Ternyata ada seorang teman aku. Kita baru bertemu setelah terakhir kali tahun 2020 bulan Desember. Dia pun datang dengan tujuan yang sama. Syukur, aku tidak sendirian kali ini. Dan tentunya kita akan kembali bersetubuh dengan penantian yang tidak pasti di sini.

Matahari yang sedikit lagi di atas kepala. Penat dengan menunggu, kita lalu mendekati sebuah para-para pinang dari seorang pedagang asli Papua, milik mama orang Pantai. Yang sering jadi langganan saya, juga para mahasiswa lainnya pada umumnya. Kita hendak mengunyah dan memesan goreng, hitung-hitung mengisi perut yang sedari tadi kosong, akibat dari belum sarapan pagi hari.

Basa-basi dengan segala keresahan yang sedang terjadi juga yang akan terjadi. Eh tak lupa kami bahas mengenai calon teman hidup dan hal itu yang membikin kami berdua ketawa-ketiwi, entah karena apa. Intinya pembicaraan begitu hangat, di temani dengan sebatang rokok dan air es. Di saat bersamaan, teman dengan begitu cepat, merespon apa yang menjadi kebutuhan ku, setelah melihat hape yang sedang aku genggaman, layar pecah.

Nai (Teman) Ko pake saya punya hape sudah? Saya baru beli satu lagi, Katanya

Akh. Jawabku (Senang lapis, mau tapi malu) pikir saya

Tanpa basi-basi lagi. Dia lalu mengeluarkan hape dan memberikan padaku. Kemudian, aku teringat kala itu, saat kita mengikuti giat dari kampus di Kabupaten Deiyai, dua tahun lalu. Saat itu dia tidak memiliki hape android yang ada ditangannya hanya hape non-android,Nokia kayu. Kebetulan saya memiliki dua hape android, satunya saya langsung berikan padanya.

Berbuat baik tidak mesti berharap lebih di saat yang sama. Eh, betul saya lupa ucapkan terima kasih saat dia berikan hape, mungkin di sini tepat walaupun kurang terhormat. Terima kasih nai (teman).

Matahari mulai turun dengan pelan-pelan. Urusan kita, kembali lagi di bilang pending, dengan alasan yang kurang begitu tepat. Besok kembai cek lagi ya, kata salah satu petugas. Akh, amarah yang tadinya menyala tiba-tiba redup, tidak heran ada yang baru digengaman tangan. Setelah itu, aku mengajak dia untuk makan siang. Selesai makan, ucapan Koyao (Selamat/Bye-bye) memisahkan kita.

******

Kesanku pada umur, jiwaku tak lagi muda. Aku murka pada waktu yang menjadi batasan, murka pada hari yang menutup kesempatan.

Akhir dari tulisan ini. Terima kasih buat segalanya yang menyayangiku. Terutama kepada Tuhan dan juga Bapa Mama.

Kita akan selalu merayakan kebahagian juga kegelisahan dalam dunia yang fana. Tetap Semangat, selamat.

September Kebalu

Tidak terlalu pagi. Dan tidak seperti pagi biasanya,
aku terbangun dari tidur pulas. Pikiran bawah sadar mengantarkan ku pada kesunyian yang hakiki.
Matahari yang malu-malu menampilkan sinarnya,
amarah awan menutupi membikin gelap gulita di Daerah Swis.
Rintikan hujan turun dengan perlahan membawaku pada ketenangan dan pada-Nya kita bernaung. Melemparkan segala keresahan juga kebahagiaan.

Ada yang mengharapakan dewasa,
Ada yang berkeinginan sukses,
Ada yang butuh perlindungan,
Ada yang mencari keheningan, dan

Masih banyak lagi yang merindu keinginan-keinginan ; seperti kembali menjadi kanak-kanak,
menjalankan aktifitas sesuka hati, mungkin itu menjadi keinginanku sekarang.

Aku tak mau terganggu, aku hanya mau melakukan hal-hal menyenangkan selain membayangkan kita berpelukan.

Seandainya. aku bisa, sekedar untuk menikmati,
sebab hanya dengan hal-hal demikian aku merasa aman juga damai.

Seperti burung yang berterbangan,
mencari makan sendiri dengan segala kebebasannya, yang tak dibatasi.
Aku pun ingin menjadi ; layaknya burung-burung itu.
Pergi, tanpa apapun dengan pemikiran sendiri berlari menuangkan segalanya.

Sementara, dilemari dan diruang itu,
engkau terus menjaga barang-barang kesayanganmu keluarga besar alat-alatelektronik,
berpasang cangkir yang tak mengenal teh dan kopi,
bedak lipstik dan teman-temannya yang menempel pada media kertas,
rambut palsu yang ada di wanita,
juga kalender yang berisi lingkaran berwarna,
dan utopia rencana keluar kerja – aku sampai di lautan direncanakan.

Burung-burung belibis tiba-tiba menjadi berani dan tidak mau lari,
matahari turun tapi tak pernah tengelam, dan aku duduk
di pinggir pantai memutar gelas seorang diri. Tentu dengan rasa yang sama.
dalam kensendirian. Tidak bisa menahan jatuh cinta.

“Aku cinta padamu” kataku.
“Aku tidak cinta pada apapun. pada diriku sendiri.” katamu.

Ukelele terletak. Tapi nyayianmu terus mengalun dan tak berkesudahan. Langit mulai gelap.
Burung-burung berhamburan.
Kamu mengajakku untuk mengejarnya dan berharap tak pernah dapat.

Aku pergi ke bandara dengan bahaya ; membawa lautan ke udara. Dan aku masih asik di dalam kesendirian, akh.

Mengisap rokok sembari menyeruput sebotol minuman dengan perlahan dalam lautan kebisuan.

Foto by : Ankey

Kebenaran itu sunyi, maka ku memilih untuk matikan lebtop, hape dan bermain ke lautan
ke tengah rimba yang banyak puncak gunung
kau minta aku pulang dan menjaga-jaga kehidupan
kenapa tidak langit? kenapa tidak gunung? kenapa tidak lautan?
mengapa tidak raja hutan atau penguasa samudera?
kenapa aku? kenapa tidak kau sendiri?
Hari ini aku menolak segala ucapan selamat tentang hidup yang terulang,
ku kunci pintu kamar menghadapi semesta, tapi doa-doa itu sembunyi di balik ibu.
Para karib dan orang-orang yang menyayangi, menangis dan tersenyum atas resiko
senda garauku, aku merasakan itu. Dengan hati-hati, Tuhan,
aku anakmu dan tahu ; Puncak segala keindahan adalah menjadi Tua.

******

Dan supaya tetap teringat, ku mengangkat gelas kearah langit walau kehilangan musim penghujan tapi surga sudah aku simpan di tutup botol paling menyala.

September mungkin akan selalu kelabu,
Dengan berbagai kebenaran yang bisu,
Agaknya, ketidak-nyamanan akan berlalu,
sebelum ajal datang bertamu.

Nabire, 06 September 2021

Generasi Papua Harus Terpanggil untuk Menulis

Oleh : Everd Scor Rider Daniel, S.IP
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjadjaran, Bandung. Kolumnis Opini dan Sastra, Juga sebagai pengiat Literasi.

Kenapa kita seharusnya menulis? Jawabannya, karena kita sedang tidak nyaman dibuat oleh orang lain. Menulis dalam maksud sederhana “mencoba sadar untuk menyoal ketidakadilan”.
Apa wujud ketidakadilan: kalau bicara tidak adil, mungkin Papua menjadi panggungnya. Kita belum jadi tuan di tanah sendiri.
Kebun kami punya, tapi kami cuma jaga. Mereka di Senayan yang sebenarnya tuan atas kebun-kebun kami.
Laut, gunung, jadi kurus karena aturan yang mereka tandatangan di Senayan. Kami hanya merenung, dengan tubuh yang hampir habis karena kelaparan. Kami pikir tidak adil, karena kami yang punya kebun, tapi kami kelaparan, tidak pergi sekolah.
Laut yang dulu sudah berubah, karena sekarang mau dengar ombak kami disuruh bayar. Kami bayar karena disuruh mereka tuan-tuan luar negeri. Kami takut, karena keringat kami diambil orang.
Takut kami bekerja untuk perut orang lain.
Kebun di belakang rumah, hampir habis, karena mereka di Ibukota sana, terlalu banyak tandatangan supaya kasih jalan orang dari luar negeri menjajah kembali sumber daya kami.
Tanah kami semakin kurus, perut mereka semakin gemuk.
Itu bentuk kecemasan dari ketidakadilan, karena takut besok kebun di belakang rumah sudah ganti pemilik. Bukan lagi kami.
*
Jalan kita hari ini adalah kesadaran. Segalanya mungkin sudah diambil, tapi ada satu yang tidak bisa dicuri, yaitu ingatan.
Meminjam kata Jurgen Habermas “segalanya bisa diambil penguasa, tapi penguasa tidak bisa mengambil kebebasan berpikir”.
Revolusi berpikir tidak pernah istirahat, karena mungkin kenyataan jarang menyimpan keadilan.
Kita punya ingatan, jadi kita harus menulis.
Generasi Papua harus sadar, jangan merasa nyaman dalam ketidaknyamanan, merasa bebas dalam ketidakbebasan. Karena situasi sebenarnya sedang tidak nyaman.
Bagaimana kita menyadarkan diri dan saudara lain, untuk melawan penjajahan akal sehat yang mereka buat di Senayan sana.
Melawan perubahan tidak harus lagi melulu pada fisik. Revolusi melawan penjajah dengan fisik mungkin sudah jadi sejarah. Tapi hari ini, yang harus kita sadari, adalah penjajahan akal.
Supaya kepala kita tidak dijajah, jalan melawan itu adalah merawat kesadaran dalam ingatan kita lewat MENULIS.

Hari ini, generasi Papua harus berani tampil di media, harus punya nyali menulis. Karena panggung bersuara bukan dicari tapi kita ciptakan sendiri.
Bentuk membela kesadaran hari ini adalah melewati suatu perjuangan ide. Manusia dikatakan sadar kalau dia masih mampu membela akal sehat dan melawan ketidakwajaran. Supaya kita tidak terus dibuat lapar oleh orang-orang kota.
Panggung pertempuran manusia modern tidak lagi di hutan atau laut, tapi pangggung adalah kepala kita. Agak benar, kalau berpikir bahwa, satu tulisan bisa menembus jutaan kepala. Tapi satu peluru, hanya bisa menjatuhkan satu nyawa. Karena itu, menulis punya pengaruh besar, dan lebih santun merawat kesadaran untuk melawan penjajahan akal sehat.

Hari ini, kita ambil keputusan untuk bertempur dalam gagasan, menyuarakan ketidakadilan lewat tulisan.
Karena bertempur di jalanan sudah tidak lagi santun. Malah kita nantinya dituduh mencari perhatian, kurang kerjaan, bahkan distigma separatis.
Karena kalau hanya demonstrasi di jalanan, saya pikir, kita hanya membuang energi, suara-suara itu jadi sia-sia, dan seketika hilang dilindas asap kendaran. Lebih santun kalau ide kita dituliskan, karena dia akan lebih abadi dan mengundang orang untuk sadar dan memahami keadaan.
Mari menulis, karena kalau tidak menulis kita akan terus jadi objek dari wacana orang lain. Dan manusia tanpa menulis sama artinya manusia yang mengizinkan ingatannya untuk mati. Menulis supaya kita tetap sadar dan kemarau tidak singgah di kepala.

Bandung, 2017

Rumah itu Kita, Kita adalah Rumah

Rumah bukan sekadar tempat tinggalmu, namun tempat di mana sebuah keluarga (masyarakat) bisa lebih mengenal dan memahamimu.

Ini hanya Ilusi. Tetapi saya sangat mengharapkan bisa menjadi kenyataan. Semua tentang sebuah rumah. Tempat di mana semua makhluk ciptaan Tuhan yang maha kuasa, terutama Manusia yang (beretika) agar bisa duduk tenang dan diami. Setiap kita yang belum memiliki rumah tentunya akan mencari cara dengan menjaring (berusaha) apapun agar bisa memenuhi hal tersebut, bukan?

Kembali ke Ilusi saya, ada sebuah rumah. Entah itu di mana? Yang pasti itu tidak asing di mata saya, mungkin juga seperti dejavu. Rumah itu boleh dibilang cukup tua, ukuran rumahnya sedang (pas-pasan). Namun di rumah itu sudah dan akan terus bertambah banyak pengunjungnya. Tidak lain, karena ada yang menarik perhatian yakni kesederhanaan juga fasilitas yang cukup memadai, walau dengan begitu halaman rumah nampaknya tidak layak, rumput tinggi, jalanan menuju rumah rusak (berlubang-lubang), seolah-olah tidak ada pemilik atau juga pengunjungnya, sangat disayangkan. Iyakan?

Renovasi ulang, merubah atau mempercantik tampilan. Memang tidak mudah, butuh waktu lama juga tenaga yang ekstra dan tidak lain; uang, untuk menuju kesana. Dan untuk mendapatkan uang saja kadang kita masih mesra bermain curung bahkan yang mengenaskan ialah nyawa manusia sekalipun kadang jadi taruhannya, hanya untuk mendapatkan seribu. Intinya dengan cara tidak sehat.

Bagi sebagian pengunjung/tamu itu hal sepele dan tidak harus, seperti halnya mengurusi; halaman rumah yang tidak terurus dan itu tidak menjadi perhatian mereka, tapi justru yang sering dipandang adalah isi dalam rumah tersebut. Makanya wajar kalau tamu yang diundang bahkan tidak sekalipun kebanyakan makan untung. Ah. Pikir mereka yang penting bisa kenyang.

Pertanyaannya sekarang: apakah tuan rumah saat melayani mereka merasa puas? Antara iya dan tidak, “cinta adalah seorang tuan rumah yang penuh kasih sayang kepada para tamunya, walaupun bagi rumahnya yang tak diharapkan merupakan sebuah khayalan dan penghinaan,” kata Khalil Gibran

Tidak sebenarnya tanpa sadar tuan rumah itu sedang dimanfaatkan dengan pola yang begitu rapi sehingga isi rumah itu dikorek sangat mudah dan itu berhasil dibawah pergi tanpa meninggalkan jejak.

Rumah itu kita. Lantas apa yang mesti kita lakukan didalam rumah sebelum menerima tamu? Tidak lain, tidak bukan kita mesti lengkapi segala perabotan rumah (pondisi kita harus kuat) hanya untuk membangun kembali dari yang telah dipandang tidak layak, menjadi lebih layak dan pantas untuk ditempati.

Di mana-mana tidak ada yang namanya tamu mengatur tuan rumah, bukan?

Yang harus kita tahu hari-hari ini ialah tamu sudah/sedang mengendalikan kita, yang mengherankan lagi adalah isi dalam rumah kita pun mereka yang lebih tahu dan itu tidak hanya sepintas tapi secara universal/detail.

Sudah seharusnya kita menjadi tuan diatas tanah sendiri dari berbagai sektor. Harapan dari ilusi saya, semoga besok yang akan terpilih sebagai Bupati Kabupaten Nabire, yang juga adalah tuan rumah, mampu untuk merangkul juga membangun/rehabilitasi rumah yang sudah mulai lapuk dimakan rayap.