Ruang Sunyi dan Seorang Mantri tua

“Kesehatan adalah anugerah terindah yang terkadang lupa untuk kita syukuri”

Belum lama ini saya berkunjung ke salah satu tempat untuk pemeriksaan kesehatan/praktek. Tempatnya, masih belum diketahui oleh orang banyak, kecuali orang yang sering pergi untuk periksa kesehatan lalu menyampaikan dari mulut ke mulut. Tempatnya di Kalibobo bersebelahan dengan gedung rektorat Universitas Satya Wiyata Mandala (Uswim) Nabire Papua.

Tempatnya begitu sunyi. Tak ada satu orang pun dalam ruang itu. Saya orang pertama saat itu sebagai pengunjung. Setelah mendengar suara – Mbah Suti keluar dan menyapa. Ada bapa ya? tanya saya. Oh bapa dirumah. Mau periksa ya? Iya Mbah. Tunggu saya telfon setelah telepon masuk Mbah berikan hape lalu saya bicara perihal keluhan saya : jawab bapa anak tunggu bapa datang. Jarak dari rumah agak jauh, namun beliau tanpa memikirkan itu lalu datang. Bukan perkara uang, tapi lebih pada tenaga, waktu untuk melayani – kenapa saya bilang begitu nampaknya semangat untuk melayani orang itu masih tetap sehat dalam jiwanya sebagai Mantri. 

Beliau tiba langsung menyuruh saya timbang dan ukuran tinggi badan sebelum periksa kesehatan lainnya. Uniknya, beliau memiliki alat yang sederhana tapi dapat melihat segala sakit penyakit yang tersembunyi dalam tubuh. Sambil periksa beliau bercerita – anak dulu itu orang mau periksa saja takut/malu pada orang lain, kalau sekarang tidak, tapi sayang belum banyak yang sadar. Sadar kenapa bapa? Tanya saya.

Ada tiga macam tipe orang ;
1. Orang yang sehat
2. Orang yang sehat tapi berbahaya
3. Orang yang sakit

Di Papua lebih khusus di Nabire ini kalau bapa mau bilang orang yang sehat itu 5%, sehat tapi berbahaya 70 % sedangkan yang sakit 40%. Tanpa sadar orang lakukan aktifitas, tapi dalam tubuh sedang merontak butuh pertolongan. Selama kami tidak sadar dan tidak mau periksa, kami akan tetap mati pelan-pelan. Jangan salahkan orang atau menuduh bahwa itu perbuatan orang. Ya boleh saja selama itu benar. Tapi lebih dari itu, periksa agar tubuh tetap tenang dan sehat.

Kebetulan beliau pernah mengabdi di Puncak jaya Mulia – sebagai Kepala Dinas kesehatan, sewaktu saya masih kecil – mama saya sering bawa dan periksa kesehatan ke beliau. Saya lalu mengenalkan orang tua saya pada beliau dan benar beliau kenal dan tanya perihal keadaan mama dan bapa, masih sehat? Masih bapa mereka di rumah. Oh iya, nanti sampaikan salam pada mereka. Siap bapa akan saya sampaikan, jawab saya.

Setelah periksa beliau sampaikan jenis-jenis obat yang harus diminum. Ada satu obat yang jarang dijual di apotek –  untungnya beliau ada kenalan sama apoteker. Anak kasih uang bapa pergi beli setelah melihat uang yang saya kasih lebih beliau bilang apabila lebih bapa akan bawa kembaliannya. Oke bapa, saya tunggu. Bapa disini bisa urut ya? Bisa, Mbah ini bantu urut, saya pergi belikan obatnya dulu. 

Bapa tiba, ini obatnya, ini uangnya tadi anak kasih itu kelebihan. Sungguh inikah pelayanan yang sejati.! Pikir saya.

Hampir lupa – Jhon dimara adalah nama beliau.

Boleh kita bersusah-payah mencari seribu. Tapi ingat, tanpa kesehatan yang baik seribu tidak mungkin ada digenggam kita. Sebelum terlambat, ayo periksa kesehatan dari sekarang dan sayangilah tubuhmu.

Sebaik-baiknya Kita, Tetap Masih saja Salah di Mata Orang

“Jangan pernah berusaha berbuat baik
untuk meyakinkan satu orang bahwa kamu adalah orang yang baik. Karena kebaikanmu akan tetap buruk di mata orang yang memandangmu dari sisi buruk (negatif). Jadi berbuat baiklah karena kamu memang ingin berbuat baik, bukan karena orang lain”. Lantas apa yang berharga dari penilaian orang lain.

Setiap orang tentu memiliki pandangan serta perspektif yang berbeda-beda. Bukan

Ijinkan saya untuk memulai tulisan ini dengan sedikit pengalaman pribadi saya. Saya yang polos sedari awal boleh dibilang kini hilang arah, sebab memilih jalan yang salah. Mungkin, benar mungkin juga tidak. Dari itu dengan sadar saya mencoba lihat dari sisi yang berbeda, sebab kita sebagai manusia yang serupa tentu tidak berhak untuk menilai bahkan menghukum, mestinya kita jadikan hal itu sebagai pelajaran untuk direnungkan – karena apa dan mengapa bisa demikian. Orang-orang seperti saya dan yang lain mungkin dengan sengaja mencoba hal-hal yang dipandang buruk tapi bertujuan untuk tidak munafik di muka umum. Bukan seolah-olah menjadi yang terbaik, tapi lebih dari itu mencoba untuk melakukan dan menikmati indahnya hidup, tanpa harus mengenakan topeng. Apapun itu akan perlahan saya jelaskan disini sebagai bahan pelajaran yang saya kira bagus untuk saya dan kawan-kawan ketahui, intinya : “Mau baik atau Tidak” yang terpenting bagi saya tidak ada dusta diantara kita.

Nakal bikin repot (Nabire) ; ini adalah salah satu akronim yang cukup terkenal disini, kabupaten Nabire Papua. Agaknya pantas untuk mengambarkan sebagian dari maksud tulisan ini. Waktu berjalan dengan alur yang sudah ditentukan, dengan menerawang langsung aktifitas yang sudah dan akan dikerjakan secara kolektif. Karena melihat langsung pergerakan kita yang cukup padat dengan agenda-agenda internal dan eskternal. Oleh karena itu, saya lalu memakai pendekatan yang agak berbeda dari sebelumnya, yang mana saya turut mencoba merasakan apa yang sudah menjadi kebiasaan mereka. Tanpa mengurangi rasa bersalah, dengan kesadaran saya terjun dengan tujuan yang tentunya akan berdampak demi sebuah perubahan. Barangkali itu yang saya coba selebihnya saya serahkan pada yang kuasa.

Memang betul, semua berawal dari mata lalu turun ke hati penilaian. Mulai dari yang ada di ujung kepala sampai kaki, intinya tak luput dari penglihatan. Apapun itu memang wajar saja, karena semua dianugerahi melalui mata. Memang semua boleh saja dan bilang dari a sampai z sebab apapun itu bebas. Memang iya, kalau menilai itu tidak perlu sesuai dengan kenyataan. Menilai kadang tak perlu dibarengi oleh pengamatan, analisis bahkan mengenali terlebih dahulu.

Karena tidak perlu tahu begitu banyak untuk menilai. Cukup simpel dan sederhana saja untuk melabeli seseorang didepan mata atau yang melintas sekilas. Semua boleh menilai tapi sekedar mengingatkan bahwa persepsi dan penilaian itu masih raba-raba alias tak pasti. Kenapa? Bukankah opini itu bebas? Tapi tunggu dulu. Opini manusia itu berbeda dengan fakta. Fakta jelas lebih diutamakan dan berlaku pada sekitar. Jadi baik dan buruk itu mestinya berkaca pada fakta.

Sedangkan opini atau penilaian itu masih abu-abu dan cenderung belum mengenal tentang apa-apa dibaliknya dan yang melatarbelakangi suatu sebab seseorang bisa seperti itu. Walaupun seorang yang cerdas atau penganalisis pun tentu belum bisa menjamin orang itu untuk bisa menilai secara tepat dan akurat. Karena memang manusia sangat terbatas penglihatannya dan juga pengetahuannya.

Pendapat memang bebas. Dan menilai juga boleh-boleh saja. Tapi jika berlawanan 180 derajat dengan fakta dan hanya demi kepuasan dalam menilai itu yang menjadi soal dan patut dipertanyakan. Anda bisa menilai suatu benda mati atau karya atau apapun itu. Namun jika menilai manusia maka itu bisa jadi bumerang, efek atau bahkan akan berdampak, tentunya dengan akan timbulnya sebab akibat.

Karena pada dasarnya penilaian orang itu tak bisa sepenuhnya ditanggapi dengan sikap “bodo amat” Karena itu manusia memiliki hati, empati dan perasaan yang jika tak dirasa sesuai akan melawan. Setajam dan hampir mendekati penilaian yang benar pun tidak bisa dilakukan semata-mata untuk memuaskan lisan.

Sekali lagi, setiap kita boleh saja menilai orang, tapi apakah kalian sudah bernilai (baik)? Kalau kalian saja tidak mampu menilai diri sendiri, untuk apa menilai yang lain? Setidaknya, merenungi dan menilai diri dahulu itu akan jauh lebih baik ketimbang menjadi tukang menilai orang lain. Akan tetap sama alias orang yang bertopeng.

Baca juga : Mengambil kembali kesendirian

Terakhir, kita harus menerima fakta bahwa kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kita juga tidak akan bisa terlihat benar di mata semua orang. Kalau pada akhirnya ada yang tidak suka–atau malah benci sama kita, ya sudah tidak apa-apa~ Kan mereka juga tidak ada di 24 jam penuh hidup kita.

Eh, tapi ada plot twistnya nih. Jangan sampai semua pendapat orang lain kita abaikan.

Baa… masa tidak konsisten ?

Kalau pendapat yang bisa bikin kita jadi orang yang lebih baik ya harus disimpan hehe. Yang dibuang jauh-jauh dan tidak usah dipikirin itu yang menggangu mental kita kayak pendapat orang yang bilang, “Tidak usah deketin cewek itu, kamu jelek, kax”. Padahal siapa yang tahu kalau cewe itu suka sama kamu~ yang pentingkan Gassskann, Tempel teros jangan kasih kendooor.

Di balik Jalan

Malam panjang, ketemu pagi saya bangun dari tidur singkat. Di hari Jumat Akh, Saya yang sedari malam belum sempat tidur juga mengatur pertemuan itu, diajak jalan dari mama saya. Beliau berencana menjenguk istri dari paman saya, yang sedang sakit. Rumah mereka tidak jauh dari tempat kami tinggal persis depan Petrosea.

Sebelum kesana kami berdua melihat/mencari daun Mayana pada pinggiran jalan dan depan rumah warga. Kami memetik daun Mayana, Mayana adalah obat tradisional yang sering digunakan masyarakat.

Dalam perjalanan, sebelum mengendarai motor saya mengirim pesan pada orang yang ingin saya jumpai. Berharap semesta ada dijalan yang sedang saya tapaki.

Tak lupa kami singgah di warung kecil sekedar membeli roti buat sarapan pagi. Setelah itu, lanjut jalan menuju rumah (paman) keluarga mama saya. 

Setelah mama turun dari motor dan masuk, saya pamit sama keluarga paman, lalu jalan. Badan saya sangat lemas, tapi itu tidak membuat saya berhenti. Saya pun jalan dengan mengendarai motor dalam perjalanan perut saya pun merontak sepertinya minta amunisi. Tidak jauh dari itu, ada sebuah warung kecil SP2 bersebelahan dengan jalan menuju Stadion sepak bola, saya lalu memarkirkan motor dan masuk rencana memesan makanan.

Hai sapa saya pada seorang penjaga warung (bude) dan beberapa orang-orang dalam warung, kemudian saya memesan makanan. Awalnya saya kira harganya akan melambung. Eh tahu-tahu dugaan saya salah harga satu porsi masih normal. Makan dan habis, saya mengeluarkan sebatang rokok dan membakar isap. Saya meminta menambahkan air es pada bude lalu ia meresponnya dengan mengatakan ‘kamu kan sudah makan jadi sudah’ pikir saya kemudian oh ternyata hal ini yang membikin beda dari tempat saya tinggal di Nabire. Hanya untuk menyenangkan bude dan sembari komunikasi dengan orang yang sedang saya tunggu, saya lalu memesan kopi itam.

Saya membuka hape dan mulai membalas pesan yang belum sempat saya respon. Tidak tunggu lama kami saling berbicara via telepon dan mengatur jadwal untuk pertemuan di sore hari.

Selepas berkomunikasi, kecurigaan saya pun muncul bahwa bude tidak suka dengan kehadiran saya ia lalu menanyakan kepada saya ‘kamu masih lama ya, dengan raut wajah yang agak tidak suka, tanpa sadar dan melihat gelas kopi yang masih terisi penuh’, lanjutnya ‘orang lain juga mau makan’. Ehehe, padahal bangku-bangku belum terisi dan tidak ada orang yang sedang mengantri di depan hanya untuk masuk dan makan. Balas saya sambil menunjukkan tangan pada gelas kopi dan bilang dengan bahasa yang agak keras saya bilang ‘kan tidak ada orang lain kecuali saya, kalau ada pasti saya akan keluar lebih dulu dari tadi bude, lanjut lagi pula saya datang kesini untuk makan dan pasti bayar, kan saya pesan sebelum makan, saya sudah membayar too, lebih dulu.

Matahari diatas kepala, saya berdiri dan keluar dari warung itu, melanjutkan atau lebih tepatnya mencari tempat nongkrong yang lebih aman, nyaman tanpa beban walaupun tempat atau warung itu banyak pengunjungnya, hanya ingin membedakan cara pelayanan.

Di pusat kota. Persis depan Tjandra Medika hospital berdekatan dengan Mall Diana, terdapat tempat yang agak lumayan banyak pengunjungnya mereka berdagang es kepala, extra Joss dan lainnya. Setelah memesan Es kepala, saya kembali duduk lalu mengeluarkan hape dan membuka note/catatan untuk lanjut mengetik tulisan ini. Mumpung panas dan kejengkelan sedari tadi masih belum dingin.

Belum sampai lima menit saya ditelepon dari mama untuk menjemputnya. Kami berdua jalan, menuju suatu tempat yang jauh dari kota, persis dan nama tempatnya saya belum tahu, tapi disana adalah kandang tempat memelihara ayam joper. Lokasi dan kandang yang begitu besar dan luas membikin saya merenung. Milik salah satu aparat kepolisian di Timika.

Dalam perjalanan balik. Ada beberapa keresahan juga keinginan yang melilit pada pikiran mama saya itu pun langsung ia lampiaskan saat diatas motor. Berkoar-koar. Sepertinya, mendengarkannya adalah satu hal yang baik. Tidak hanya dengar saya pun berusaha mengalihkannya dengan membikin ia canda tawa. Hanya untuk meredam emosinya.

” Panas akrab dengan cemas, di tempat yang banyak Emas.

Awan cerah mulai kembali gelap. Hujan pun perlahan turun di sore hari dan kembali menutup kesempatan untuk berjumpa, derasnya hujan membikin tubuh ini hanyut dalam dunia sunyi yang tak disadari. Pertemuan pun ditunda, entah kapan.

Review Film : The Imitation Game

Film ini menceritakan tentang keberhasilan seorang matematikawan yang bernama Alan Turing dalam memecahkan teka-teki yang dibuat oleh Jerman untuk menjaga kerahasiaan informasi pada perang dunia ke-II. Teka-teki ini dibuat oleh Jerman dengan bantuan mesin yang disebut dengan “Enigma Mesin”. Film yang berdurasi 1 jam 54 menit, yang diarahkan oleh Suzie Shearer, melalui visualisasi buku yang berjudul “Alan Turing, The Enigma” yang ditulis oleh Andrew Hodges.

Dalam film ini kita akan mengikuti alur yang  maju-mundur, dan film ini juga menceritakan masa kecil sang tokoh utama yakni Alan Turing, tepatnya saat beliau masih bersekolah. Dia memiliki seorang teman yang bernama Christopher Morcom, dalam kesehariannya mereka selalu bertukar surat kabar yang pesannya hanya dapat dibaca oleh mereka berdua, hal itu dikarenakan mereka suka bidang Kriptografi, namun tidak lama kemudian sahabatnya dikabarkan meninggal karena penyakit yang dideritanya sebelum mereka berdua lulus. Sebelum meninggal dia mengirim pesan yang berisi “I love you”. Sehingga disini kita dapat mengetahui bahwa Alan Turing memiliki sifat menyukai sesama lelaki (Guy). Selain itu, Alan juga seorang yang pendiam namun kecerdasan yang dimilikinya diatas rata-rata. Dia sering dibuli oleh teman-temannya karena dia berbeda dengan anak-anak yang lain. Ada satu kalimat yang Alan ingat dari Christopher yaitu “Terkadang hanya orang yang tak diduga-lah yang bisa melakukan hal diluar dugaan.”. Oleh karena Alan mencintai temannya tersebut, maka Alan menamai mesin ciptaannya dengan nama “Christopher”.

https://www.variety.com

Dalam menyelesaikan mesin tersebut, Alan dibantu oleh teman-teman yang ahli memecahkan sandi, diantara, Hugh Alexander, Detective Robert Nock, John Cairncross, dan seorang wanita yang juga sebagai tunangannya yaitu Joan Clarke. Disini terlihat Alan memiliki sifat sombong karena merasa dirinya lebih hebat, selain itu dia sering memisahkan diri dengan teman-temannya. Meskipun begitu dia tetap orang yang baik, serta sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan.

Film ini juga menampilkan beberapa video asli perang dunia ke-2 sehingga hal itu membuat kita sebagai penonton dapat merasakan hal yang dirasakan oleh para pemain yang berakting di sana. Jika dilihat dari segi kualitas video, warna yang ditampilkan kurang bagus, namun itu hal yang wajar karena film ini menceritakan kisah yang terjadi pada tahun 1930-an.

Adapun, film ini tidak menampilkan latar tempat yang berfungi untuk memperjelas tempat syuting, seperti bangunan-bangunan ikonik, keterangan dalam video dan sebagainya. Dalam film ini juga sedikit menampilkan latar tempat musuh yakni Jerman, sehingga film ini hanya berpusat pada kehidupan sang tokoh utama yang hidup di Britania Raya. Meskipun begitu, latar waktu dalam video ini cukup bagus.

Alan Turing meninggal pada tanggal 7 Juni 1954, tepat setelah 1 tahun menjalani perawatan medis untuk mengurangi sifat suka sesama lelaki. Hal itu juga menjadi penutup dari film ini.

Dari film ini kita dapat menjadikannya sebagai motivasi untuk para generasi muda agar tetap mencintai tanah air. Selain itu juga film ini dapat membuat para penontonnya untuk berusaha semaksimal mungkin dalam menggapai impian, yakni jangan menyerah, terus menerus mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi.

Perihal Waktu


Pekerjaan di dalam dunia yakni “relawan” untuk kemanusiaan, jadi relawan bukan karena ada kesempatan, tetapi kita lah mencari kesempatan, bukan dilakukan pada waktu luang, tetapi meluangkan waktu untuk menjadi relawan.

Aku tak tahu mengapa aku ingin melakukannya,
tapi aku mau disanalah tempatmu,
dikepung oleh kaumku, kesunyian, korban, peyimpangan dan orang tak berpendidikan,
tempat yang orang banyak tak perhatikan,
Aku ingin bertemu kamu agar bersama bisa dengan senang hati menjalankan tugas mulia.

Ini bukan ketiga kalinya aku kembali memikirkanmu,
Aku ingin melihat wajah dan mendengar suaramu,
Lalu kita menguping keresahan orang-orang,
duduk tukar cerita,
Aku tahu itu tak akan terjadi kau meninggalkanku,
Aku tak bisa merebutmu,
Aku pindah dan selalu membayangkanmu,
Suatu kutukan.

Ku rasa ini hanyalah masalah waktu,
Aku tak tahu mengapa aku menulis ini,
Aku tak tahu apa yang akan terjadi,
Aku tahu aku tak bisa merebutmu kembali,
Aku tak tahu sebabnya tapi ini sungguh terjadi,
Aku merasa, akulah penyebabnya
kemalangan, racun dan kebimbangan,
selalu datang merasuki pikiranku,
Aku mulai berhenti melakukan hal baik di Dunia ini.

Tanpamu, kan ku usahakan sekali lagi tuk memasuki pekerjaan lain,
Ke dalam pekerjaan terakhir yang kupilih.
Dan mati hari ini. Hidup dan mati hari ini.

Pasar

Seorang penulis sejarah ekonomi membayangkan sebuah dialog. Syhdan, katanya, ada seorang konsultan Barat yang memberi nasihat kepada sejumlah pemimpin Afrika tentang bagaimana caranya memecahkan problem ekonomi mereka. Nasihatnya ringkas : aturlah masyarakat Anda menurut ekonomi pasar.

‘’baiklah,’’ jawab orang-orang Afrika itu. ‘’ lalu apa yang harus kami suruhkan kepada rakyat? Bagaimana kami membagi-bagi tugas mereka?”

‘’loh,’’ jawab si konsultan, ‘’ tak usah disuruh-suruh segala.

Dalam ekonomi pasar, tak seorang pun diberi tugas. Gagasan inti dari suatu masyakat pasar ialah bahwa tiap orang punya kebebasan untuk memutuskan tugasnya sendiri.’’

‘’Mana mungkin?” Tanya para pemimpin Afrika itu, yang terbiasa dengan masyarakat tradisional, di mana tiap orang diatur oleh pemimpin adat. “ Anda mau biarkan rakyat memutuskan soal demikian sendiri saja? Bagaiman kalau mereka berbuat salah? Dan di Badu tak mau bekerja di lading dan Si Gagu tak lagi jadi penjaga took?”

“Ssst,’’ suhut sang konsultan, ‘’ tenang. Dalam suatu masyarakat pasar bebas, semua pekerjaan akan terisi, karena orang-orang itu sendiri akan merasa lebih beruntung untuk bekerja di bidang ini dan bidang itu.

Dengan kata lain, sang konsultan bicara tentang ‘’ Tangan yang Tak Terlihat.’’ Dalam gagasan Adam Smith-tangan yang mengatur dengan sendirinya segala perilaku ekonomi orang-orang yang di masyarakat.

Pasar bebas dengan Tangan yang Tak Terlihat? Orang Afrika dari negeri berkembang itu parcaya akan banyak hal, tapi bukan takhayul yang satu ini.

Dan tampaknya mereka tak sepenuhnya salah. Sang konsultan Barat mungkin ingin mengesankan bahwa dengan ekonomi pasar nasyarakat pun bebas dan demokratis. Bukankah di sana orang tak diatur-atur oleh orang lain yang berkuasa?

Benar. Tapi memang terlalu tergesa-gesa untuk mempersamakan system yang berorientasi pada pasar dengan demokrasi. Dorongan demokratis bagaimanapun menghendaki persamaan. Tapi tuntutan persamaan ini melongsorkan impian tentang suatu stabilitas yang sendi pokoknya ialah tetapnya perbedaan tempat (dan perbedaan hasil), antara si buruh dan si pemilik modal.

Karena itulah, untuk menyontek kata-kata seorang professor yang menulis Politics and Markets di tahun 1978, “ Sistem yang berorintasi pada pasar, agar berhasil, mungkin memerlukan begitu banyak pengaruh bisnis….” Karena itulah, kata professor Charles E Lindblom pulu, “Perusahaan swasta yang besar ganjil cocoknya dengan teori demokrasi. Bahkan, memang tidak cocok.’’

Di satu pihak system pasar bebas itu punya stuktur otoritas politik. Di lain pihak, suatu system bisnis, dengan nilai-nilainya, syarat-syaratnya dan tingkah lakunya yang menyaingi (serta juga melengkapi) otoritas pemerintahan. Siapa yang unggul, tak bisa ditentukan secara pasti dan secara tetap. Tapi orang memang bisa bicara tentang suatu kekuatan lain, yang tak tampak bagaikan gempa laut yang melontarkan gelombang: kekuatan gairah menuasia untuk memperoleh tambahan kekayaan tak putus-putusnya. Kita tahu bahwa yang berorientasi pada pasar menganggap sah dan sehat bergairah seperti itu. Kita pun tahu bahwa system yang lebih mau mengatur ekonomi dengan komando-seperti di negeri sosialis-ingin mengendalikannya, dan tak berhasil. Yang sering kita tak tahu ialah bahwa gairah yang bisa disebut hasrat kemajuan, atau juga keserakahan itu, ternyata tak juga bisa diatur oleh Tangan Yang Tak Terlihat.

Filosofi Bertrand Russel pernah mengatakan bahwa seandainya orang digerakkan oleh kepentingan diri sendiri, ‘’seluruh umat manusia akan bekerja sama.’’ Repotnya, menurut Russel manusia tak didorong oleh kepentingan diri sendiri, ‘’ kecuali dalam kasus beberapa orang suci.’’ Aneh atau tak aneh ucapan ini, anggapan dasarnya ialah kepentingan diri sendiri manusia niscaya rasional tiap pamrih niscaya masuk akal. Tapi benarkah? Bumi toh jadi rusak, kemiskinan tak terpedulikan, dengan Reagan dan lain-lain menghitung-hitung persenjataan. Manusia tidak jelek, memang. Tapi ketidakpastiaan dan keserakahannya bisa mengerikan.

Tulisan ini awalnya di tulis pada Buku Catatan Pinggiran 2 hal. 33. Saya merasa penting untuk dipublikasikan disini untuk kepentingan arsip dan pendidikan.

Aku Tidak Fomo

Tuhan: “Percayalah kepadaku”
Aku: “Jika aku tak percaya?”

Tuhan: “Kamu akan Kuhukum masuk neraka”

Umat ber-Agama: “Masuklah ke agamaku”
Aku: “Jika aku beragama lain?”
Umat ber-Agama: “Kamu akan kubenci dan kumusuhi”

Begitukah “cara kerja” Tuhanmu dan agamamu?
Lantas DI MANA maha kasih dan cinta kasih yang kau lantangkan?

Mengambil kembali Kesendirian

Pada masa yang makin hiruk-pikuk akibat keterhubungan kita melalui internet, kesendirian menjadi sumber daya yang langka dan agaknya teracam. Tentu kini saat yang tepat untuk kita mengambil kembali waktu untuk menyendiri.

Bagi sebagian orang yang mengenal saya, mungkin sudah tahu kalau saya sangat menyukai kesendirian. Saya sering mengamati keramaian dari jauh dan itu membuat saya tertarik. Sebab saya ingin mencoba memaknai interaksi sosial yang terjadi dan berpikir mengenai hal-hal yang menurut kebanyakan orang awam tidak masuk akal sama sekali. Atau mungkin saya yang anti-sosial?

Jelasnya, kita berhak memilik waktu untuk kesendirian ? Apalagi di zaman ini, sudah dan akan terkikis secara perlahan-lahan. Padahal, waktu ini adalah waktu yang amat penting untuk membuat kita unik menjadi diri kita sendiri. Bukan berarti saya menginginkan kita semua pindah Agama ke hutan dan menikmati alam seperti Christofer. Juga bukan berarti kita harus kembali ke zaman pra-internet dan mengorbankan segala kemudahan hidup yang telah diberkahi internet tersebut. Bukan berati, kita harus menjadi anti-sosial dan membelakangi interaksi sosial sama sekali.

Di atas ini adalah grafik yang disajikan oleh Adam Alter dalam TED Talknya, dia menunjukkan kalau ‘waktu putih’’, yakni waktu yang kita miliki untuk bisa benar-benar menjadi diri kita sendiri, itu nampaknya makin berkurang. Alasan utamanya adalah kita masih terpaku pada layar dan hidup kita mulai bergantung pada dunia maya. Interaksi tambahan, serta desain media sosial dan semua aplikasi yang terdapat di ponsel anda sekalian, secara tidak sadar sudah mulai banyak menyita waktu pribadi kita.

Kenyataan ini dikritik oleh Michael Harris dalam bukunya yang berjudul ‘Solitude’. Harris menganggap waktu sendiri sebagai sebuah sumber daya yang semakin langka. Ditambah lagi manusia modern seolah lupa cara memanfaatkan waktu sendirinya dengan maksimal. Sehingga banyak yang mulai akrab dengan stress akibat begitu banyaknya pekerjaan.

Kapan terakhir kalinya anda melamun?

Padahal, ketika kamu melamun, biasanya inspirasi timbul. Kini, banyak dari kita yang sering dengan nekat bahkan sedang boker sekalipun masih menatap hape. Menurut harris, terdapat sebuah stigma sosial (setidaknya pada masyarakat Amerika) yang berlandaskan etos Protestan yang dikemukakan Max Weber terhadap orang-orang yang masih suka dengan melamun. Dalam kultur Protestan, siapapun yang tidak bekerja, tidak akan mendapatkan apa-apa. Melamun bukanlah sesuatu yang produktif, sehingga dianggap perbuatan aneh. Stigma serupa umumnya kita jumpai di masyarakat kita. Pernah kah, anda menonton iklan yang bilang kalau kita melamun nanti kesembet setan? Sekali lagi, tulisan ini tidak serta-merta menganjurkan kamu pindah agama ke gubuk di tengah hutan demi menghindari interaksi sosial seperti Christofer pada film ‘Into The Wild’. Pun saya sadar kalau tidak semua orang akan memahami ‘kesendirian’ seperti saya. Tapi tentu bagi mereka yang tertarik, akan mengambil kembali ‘waktu putih’ mereka.

Kalian bisa mulai dari hal-hal kecil seperti tidak membawa ponsel ke kamar mandi, melihat ke luar jendela di sela-sela pekerjaan, tidak melihat ponsel saat makan siang, dan yang paling utama, tidak melihat ponsel saat berjalan. Tengoklah ke atas, ke samping, ke depan dan perhatikan dunia resolusi tinggi yang sedang kita tinggali.

Baca Juga : Perjalanan Tanpa Tujuan

Untuk yang terakhir, saya berharap lebih banyak orang yang akan melakukannya. Walaupun itu kebebasan bagi setiap orang, namun yang jelas saya sangat amat benci kalau sudah harus berjalan lalu melihat orang yang bungkuk dan ketika duduk bersama malah memilih menatap ponselnya. Lebih kesal lagi kalau mereka datang dari arah berlawanan dan berjalan zig-zag. Jadinya lebih susah tuk menghindar. Bisa kok ke pinggir dulu, balas chat dan terus berjalan lagi!

Review Film : Into The Wild 2007

Apa yang menjadi standar kebebasan menurut Anda ? Apakah itu berarti kita bebas melakukan apa pun yang kita mau tanpa batasan yang menghalangi?

Kebebasan ini pun seringkali kita maknai dengan bebas. Bebas melakukan apa pun tanpa ada sesuatu yang menghalangi. Bebas adalah kepuasan kita ketika menerjang ruang atau garis batas yang ditetapkan. Bebas menjadi dunia kita sendiri, tanpa ada ini itu yang menpunyai hak dalam dunia kita. Dan film Into The Wild, mencoba memberikan pemaknaan akan kata bebas itu sendiri.

Saya merekomendasikan kepada Anda untuk menonton sebelum lanjut membaca ini. Sebab review ini berangkat dari sudut pandang saya, dan tentu setiap kita miliki sudut pandang yang berbeda. Bukan.

Into the wild adalah sebuah film garapan sutradara sekaligus actor kelahiran Santa Monica, California, Amerika Serikat, 17 Agustus 1960 bernama Sean Penn. Sean pernah meraih penghargaan sebagai actor terbaik Oscar pada tahun 2003 untuk film Mystic River dan tahun 2008 untuk film Milk. Film yang dirilis 21 September 2007 ini pun berhasil meraih 7 nominasi dalam Critics Award tahun 2008.

Film ini bercerita tentang kisah nyata petualangan Chirstopher Johnson McCandless yang hidup di Alaska selama dua tahun, sean dengan sangat menarik menceritakan kisah perjalanan tersebut. Ide ceritanya diangkat berdasarkan novel best seller dengan judul sama yang ditulis oleh Kon Krakauer. Setelah lulus dari Universitas Emory pada tahun 1990, pemuda berusia 22 tahun itu memutuskan untuk pergi dari kehidupan yang selama ini ia anggap sebagai kepalsuaan semata.

Chris memiliki ayah seorang ilmuwan yang jenius dan direkrut oleh NASA untuk menangani desain system radar satelit Amerika sebagai solusi demi menyaingi satelit Sputnik bikinan Rusia. Oleh karena itu, ayah dan ibu Chris lalu mendirikan sebuah lembaga konsultasi yang akhirnya membuai sukses. Namun, kesuksesaan ini berbanding terbalik, ternyata justru membikim orangtua Chris ‘buta’ dan menuai perpecahanan keluarga dan hidup penuh kepalsuan yang membuat Chris tidak senang dan memutuskan untuk berkelana. Berkelana untuk hidup di alam liar tanpa alat komunikasi, uang dan segala kemewahan lainnya.

Chris kemudian melakukan perjalanan dari Atlanta ke Dakota Selatan, ia bekerja sebagai penggiling gandum, mengarungi sungai Colorado sampai Grand Canyon dengan perahu dayung illegal, pergi ke Meksiko, Golfo, ditangkap karena menjadi penumpang illegal di kereta api, lalu ke Salvation Mountion, The Slabs, kemudian ke Alaska. Di dalam perjalanannya Chris berjumpa dengan banyak orang dan mengalami banyak pengalaman yang sangat mengesankan. Ini adalah cerita tentang keluarga, cinta, kedewasaan.

Tidaklah mudah membuat sebuah film dari kisah nyata. Mesti ada penyajian dan komposisi yang tepat dalam meramu penggalan-penggalan cerita yang ada sehingga tidak menjadi sebuah cerita tidak membinggungkan. Sean dengan sangat cerdas menyatukan semua itu. Layanya secangkir kopi hangat yang kita nikmati saat hujan turun basahi bumi, panduan yang membangun Into The Wild sungguh nikmat terasa. Alur yang disajikan tidak secara linear, ada juga alur campuran yang akan mengajak kita untuk menelisik juga memahami sebab dan akibat juga symbol dari pesan-pesan yang ingin disampaikan. Cerita ini dibagi menjadi tiga babak yang tentunya akan membuat penonton lebih tertarik dan mudah tuk dipahami jalan ceritanya. Dengan konsep ini, dijamin tidak akan ada kebosanan di awal, tengah, maupun akhir dari film.

Actor Emile Hirsh dengan sangat baik memainkan karakter Chris. Ia mampu menyelami pribadi Chris dan menampilkan Chris yang sebenarnya, pemuda yang masuk ke alam liar. Sepanjang cerita kita akan diajak merasakan bahagia melihat petualangan seru dari Chris dalam menjalani kehidupannya di berbagai tempat. Tidak berlebihan dan tidak kurang sedikit pun. Hamper sebagian besar terasa alami, seperti pemandangan alam yang juga dapat kita nikmati. Sungguh indah, sungguh sangat alami.

Adapula yang menarik dari film ini yakni kita akan dibawa pada sebuah perjalanan menuju kedewasaan. Selain itu, kita juga ada melihat quote yang ‘berkata-kata’ dengan indah penuh dengan makna. Bukan menggurai, tapi malah tuntun langsung untuk secara bersama belajar dari petualangan Chris yang penuh warna-warni. Film ini bahkan sampai terakhirnya ditutup oleh sebuah kalimat dari catatan Chris yang sangat menggugah yakni ‘HAPPINESS ONLY REAL WHEN SHARED”

Sabtu di Kebun

“Berkebunlah seolah-olah anda akan hidup selamanya” Thomas Moore

Hari ini sekitar pukul 07:22, tidak seperti biasa saya bagun dari tidur agak tempo. Saya keluar dari kamar lalu menimbah air mineral, tidak seperti biasa yang menyeduh kopi dan masuk pada ruangan tempat dimana saya bekerja sekalian tempat menuangkan segala rasa yang pernah ada, juga yang akan ada. Tentunya, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka lebtop lalu menyambungkan bluetooth pada speaker lalu memutar lagu, kali ini saya memilih lagu country slow barat. Biasanya di pagi hari saya suka memutar lagu bergenre folk yang dinyanyikan oleh Ikshan Skuter salah satu artis kesukaan saya dan tak lupa Mambesak vocal grup dari Papua, yang sering menyanyikan lagu tentang perjuangan pokoknya semua menyangkut dengan rasa.

Perjalanan

Tidak lama kemudian mama saya tanpa mengetuk pintu dia masuk lalu mengajak saya ke kebun sekedar mengecek lokasi katanya, saya pun langsung mengiyakan, berdiri dari bangku dan siap. Kami memakai kendaraan beroda dua. Ternyata dia sudah siap lebih dulu dengan menaruh bibit daun ubi di atas motor. Mama saya yang mengemudi, setelah lepas dari rumah di pertengahaan jalan kami pun singgah di Waharia, untuk membeli sarapan, saya turun dan membungkus nasi. Setelah itu, sebelum naik motor, Ko sudah rokok beli ka? Tanya mama, belum nanti di dekat kebun saja jawab saya. Soal pengertian pasti setiap mama sama, apalagi kepada anak pertamanya, bukan. Dengan perlahan kami meluju menuju kebun di Kimi. Sesampai di Kimi mama meminggirkan motor dan bilang beli rokok di sebelah situ sudah, saya kemudian turun lalu menyeberang hendak membeli sebungkus rokok, setahu saya hanya 25 ribu dalam sak celana, setelah masuk dan tanya perihal rokok surya 16 eh tau-tau harganya 26 ribu penjualnya bilang harga sudah naik setelah melihat wajah saya yang agak heran, karena sudah malas untuk singgah lagi sebab barang bawaan banyak yakni bibit sayur ubi, saya kembali memerikasa sak celana dengan perlahan-lahan, eh syukur ada 2 ribu yang terselip di dalam sak. saya pun beli dan kami berdua lanjut.

Kebun

Sesampainya dikebun sebelum menurunkan barang bawaan kami langsung di sambut dengan sapaan “Selamat pagi” dari salah satu orang yang mama percayakan untuk tinggal di sebuah pondak yang berpanggung. Dia berasal dari Tanah Toraja merantau jauh-jauh ke sini, kami sebut dia om antoh, mungkin om adalah panggilan yang akrab dan paling cocok. Sebab terlepas dari itu benar juga karena mama lebih dulu mengenal dia dan beberapa orang Toraja yang tinggal sebagai tetangga di sini (Kimi) dan itu kami anggap sebagai om.  Sedari pagi hari beliau memberi makan ayam sekaligus persiapkan ayam jagonya, sebab akhir-akhir ini mereka membikin pertarungan aduh ayam persis di sebelah pondok kami. Hampir setiap hari. Dan pada hari sabtu dan minggu adalah pertarungan yang paling sengit dengan penonton atau orang yang hendak mempertaruhkan ayam, dan banyak yang akan berdatangan, kata om antoh.

Adik-adik saya kadang ke sana (Kimi) untuk tangih uang palang bagi yang hendak masuk, ada yang berpikir kenapa harus di palang, saya anggap hal itu wajar karena jembatan untuk menghubungkan jalan ke lokasi tempat pertarungan ayam itu adalah usaha dari mama saya yang sedari dulu membikin dengan memakai uang pribadinya.

Tidak hanya orang Toraja disana ada juga orang Bugis, Batak dan lainnya yang gemar dengan pertarungan ayam jago atau kasarnya pertaruhan judi. Judi memang, sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang dan tentu untuk melarangnya tidaklah mudah, sebab keamaan mereka sangatlah kuat.  Sama persis dengan penjualan minuman beralkohol dan judi lainnya. Terutama di Papua sini.

Bekerja sembari Basa-basi

Saya dan mama mulai masuk ke kebun tempat dimana kami akan bekerja. Saya membawa bibit dan bungkusan sarapan. Kami mulai dengan berdoa yang di pimpin mama, kami lalu sarapan sehabis sarapan saya memilih untuk melihat-lihat lokasi kebun dan membiarkan mama membersihkan sedikit tempat sebelum kami mencangkul dan menanam beberapa jenis bibit yang mama bawa.

Sekembalinya saya dari pantau-memantau layaknya pengawasan, saya mengambil alat cangkul lalu mencangkul dan mama mulai masukan bibit-bibit sayur ubi-ubian itu. Sembari masukan bibit, saya bilang ke mama memangnya harus berpasangan ka, iya biar mereka bisa kawin satu sama lain dan menghasilkan ubi, sama halnya dengan manusia juga kan, dengan Bahasa yang senda garau saya dan mama pun tertawa, mama tunjuk kearah sayur yang sudah dia tanam dan bilang itu bibit ubi dari Jakarta dua tahun lalu yang mama bawa, Ko masih ingat ka ? Tanya mama, oh iya betul jawab saya dengan heran. Katanya, waktu itu dia tanam dan tunasnya sudah dia tanam dan itu sebagiannya.

Adapula yang diceritakan. Pokoknya banyak, dia orangnya memang suka bicara. Saya yang suka dengan mendengar atau lebih tepatnya pendiam. Eh mungkin begitu. Dia mulai menanyakan perihal orang yang sedang saya dekati, dan hal itu paling sering dia tanyakan, saya memilih diam tidak meresponnya, dia yang melihat saya lalu memilih untuk membicarakan hal lain, kali ini dia menceritakan kehidupan orang tuanya ; bapanya yang adalah (tete) saya, tentang kehidupan dulu yang berkecupun namun beliau (tete) mampu berpikir hal-hal jauh kedepan, layaknya orang yang berpendidikan. Ada hal yang paling mengesankan tetapi hal itu tidak akan saya tulisan disini, akan saya buat khusus besok-besok-besok.

Kerja sembari bicara. Saking asiknya tidak terasa matahari sudah berada diatas ubun-ubun kepala, menandakan hari sudah siang. Pekerjaan kami sisa setengah lagi, saya mengambil hape lalu memfoto hasil kerja. Biar kentara orang kerja ka ini. Lebih dari itu agar ada cerita yang bisa diceritakan, terutama kepada penerus saya nanti. Iyakan. Pekerjaan ini sebenarnya tidak terlalu membuang tenaga, tapi saya capeh ya maklum belum terbiasa perihal berkebun, semoga ini menjadi awal yang baik untuk saya. Berkebun ternyata asik dan menyenangkan juga hanya saja harus bisa biasakan agar terbiasa.

Duduk Sebelum Pulang

Pukul 13.14 pekerjaan kami selesai. Kami mendekati pondok, menaruh barang bawaan seperti noken atau tas rajutan yang kebanyakan mama-mama asli Papua rajut, santai sekedar menghirup udara segar di para-para yang di payungi pohon gerseng dan jeruk yang sedari dulu saya tanam. Tidak lama kemudian om antoh dan kawannya tiba dengan membawa gergaji dan martelu, katanya habis bantu membetulkan tempat pertarungan ayam, demi mendapatkan sebungkus rokok. Ini rokok tawar om antoh pada saya, jawab saya ada om makasih. Pondok yang berpanggung ukurannya tidak terlalu besar, tapi muat untuk menampung satu keluarga kecil. Saya mencuci tangan dan kaki lalu menuju ke belakang tempat kandang ayam dan babi berdiam, sekedar melihat-lihat.

Tempat di Kimi cukup bagus dan tenang, walaupun sedikit dekat dari jalan raya Samabusa, jalan yang menuju Pelabuhan juga Lagari. Lagari adalah tempatnya orang-orang tranmigrasi. Disana banyak orang transmigrasi salah satunya orang-orang NTT bekas jajahan Portugis kala itu.

Kami berempat duduk basa-basi agak lama, sembari basa-basi kawan dari om antoh mengeluarkan sebotol minuman (Vodka), sepertinya itu juga hadiah dari keringat mereka yang tadi dan setelah melihatnya beberapa menit kemudian mama mengajak saya untuk pulang dan kami dua mulai bergegas. Entah kenapa? Mungkin sudah selayaknya kami pulang. Kali ini untuk pulang saya yang memboncengi mama.

Tanah tentunya setiap kita punya. Jaga dan rawat mungkin akan menjadi pilihan yang tepat ketimbang jual walaupun itu mendesak setidaknya berinvestasilah dari pada melepaskan begitu saja. Gunakan tanah untuk menghidupkan!