Mengambil kembali Kesendirian

Pada masa yang makin hiruk-pikuk akibat keterhubungan kita melalui internet, kesendirian menjadi sumber daya yang langka dan agaknya teracam. Tentu kini saat yang tepat untuk kita mengambil kembali waktu untuk menyendiri.

Bagi sebagian orang yang mengenal saya, mungkin sudah tahu kalau saya sangat menyukai kesendirian. Saya sering mengamati keramaian dari jauh dan itu membuat saya tertarik. Sebab saya ingin mencoba memaknai interaksi sosial yang terjadi dan berpikir mengenai hal-hal yang menurut kebanyakan orang awam tidak masuk akal sama sekali. Atau mungkin saya yang anti-sosial?

Jelasnya, kita berhak memilik waktu untuk kesendirian ? Apalagi di zaman ini, sudah dan akan terkikis secara perlahan-lahan. Padahal, waktu ini adalah waktu yang amat penting untuk membuat kita unik menjadi diri kita sendiri. Bukan berarti saya menginginkan kita semua pindah Agama ke hutan dan menikmati alam seperti Christofer. Juga bukan berarti kita harus kembali ke zaman pra-internet dan mengorbankan segala kemudahan hidup yang telah diberkahi internet tersebut. Bukan berati, kita harus menjadi anti-sosial dan membelakangi interaksi sosial sama sekali.

Di atas ini adalah grafik yang disajikan oleh Adam Alter dalam TED Talknya, dia menunjukkan kalau ‘waktu putih’’, yakni waktu yang kita miliki untuk bisa benar-benar menjadi diri kita sendiri, itu nampaknya makin berkurang. Alasan utamanya adalah kita masih terpaku pada layar dan hidup kita mulai bergantung pada dunia maya. Interaksi tambahan, serta desain media sosial dan semua aplikasi yang terdapat di ponsel anda sekalian, secara tidak sadar sudah mulai banyak menyita waktu pribadi kita.

Kenyataan ini dikritik oleh Michael Harris dalam bukunya yang berjudul ‘Solitude’. Harris menganggap waktu sendiri sebagai sebuah sumber daya yang semakin langka. Ditambah lagi manusia modern seolah lupa cara memanfaatkan waktu sendirinya dengan maksimal. Sehingga banyak yang mulai akrab dengan stress akibat begitu banyaknya pekerjaan.

Kapan terakhir kalinya anda melamun?

Padahal, ketika kamu melamun, biasanya inspirasi timbul. Kini, banyak dari kita yang sering dengan nekat bahkan sedang boker sekalipun masih menatap hape. Menurut harris, terdapat sebuah stigma sosial (setidaknya pada masyarakat Amerika) yang berlandaskan etos Protestan yang dikemukakan Max Weber terhadap orang-orang yang masih suka dengan melamun. Dalam kultur Protestan, siapapun yang tidak bekerja, tidak akan mendapatkan apa-apa. Melamun bukanlah sesuatu yang produktif, sehingga dianggap perbuatan aneh. Stigma serupa umumnya kita jumpai di masyarakat kita. Pernah kah, anda menonton iklan yang bilang kalau kita melamun nanti kesembet setan? Sekali lagi, tulisan ini tidak serta-merta menganjurkan kamu pindah agama ke gubuk di tengah hutan demi menghindari interaksi sosial seperti Christofer pada film ‘Into The Wild’. Pun saya sadar kalau tidak semua orang akan memahami ‘kesendirian’ seperti saya. Tapi tentu bagi mereka yang tertarik, akan mengambil kembali ‘waktu putih’ mereka.

Kalian bisa mulai dari hal-hal kecil seperti tidak membawa ponsel ke kamar mandi, melihat ke luar jendela di sela-sela pekerjaan, tidak melihat ponsel saat makan siang, dan yang paling utama, tidak melihat ponsel saat berjalan. Tengoklah ke atas, ke samping, ke depan dan perhatikan dunia resolusi tinggi yang sedang kita tinggali.

Baca Juga : Perjalanan Tanpa Tujuan

Untuk yang terakhir, saya berharap lebih banyak orang yang akan melakukannya. Walaupun itu kebebasan bagi setiap orang, namun yang jelas saya sangat amat benci kalau sudah harus berjalan lalu melihat orang yang bungkuk dan ketika duduk bersama malah memilih menatap ponselnya. Lebih kesal lagi kalau mereka datang dari arah berlawanan dan berjalan zig-zag. Jadinya lebih susah tuk menghindar. Bisa kok ke pinggir dulu, balas chat dan terus berjalan lagi!

Sedih Yang Bisu

Pagi selalu memancarkan sinar lewat selah-selah pepohonan, dan terdapat senyum bisu yang tergeletak disana, di bawah kaki gunung dan pinggir sungai yang mengalir deras, air mata pun di paksa ikut arus. Dan disitulah titik keresahan yang hanya bisa dilihat dan didengar namun tak mampu untuk di rasakan berlanjut terus hingga kapan entahlah, hanya kesejukan alam bersama dingin yang dapat dinikmati.

Di bulan Damai ini.

Foto by : Yaguphoto

Sementara sedih yang sa rasakan setia menemani, padahal bulan ini sebagai bulan Damai kelahiran Yesus Kristus ke dalam Dunia yang mesti di rasakan oleh semua umat nasrani, Namun disini sa masih sedih, dari hutan ini sa hanya bisa dengar suara air, suara burung yang berkicau, suara angin yang sepoi. Sa yang lupa akan tempat tinggal. Lalu disini sa saksikan ada yang melahirkan anak dari memberi nama Pengungsi.

Ah siooo

Dari semua itu, sa hanya dapat bersyukur masih diberi Nafas untuk Hidup, walau dalam derita yang tertutup begitu rapi.


Selamat Hari Natal Papuaku dari kami di Hutan belantara.