Hadiah Ulang Tahun Perdana

Terlambat membuat tulisan ini. Akh, bukan hal baru bagi aku, sebab ini sudah sering terjadi. Dan tentunya tidak jadi soal mumpung saat bersamaan aku sedang merayakan ulang tahun dan berusaha menikmati kesendrian juga keindahan dunia, di hari istimewah. Hari dimana aku hadir dalam dunia yang kelam, penuh tanda tanya.

Aku buka mata di waktu pagi yang cerah, masih di sini di tempat terindah sekaligus tempat kelahiranku.

Subuh dini hari. Yang begitu hening membikin atau terus terdiam dan merenungkan setiap detail hidup yang sudah dan akan berlangsung.

Malamnya, entah mengapa aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Seperti ada yang datang menganggu. Tentu ini tidak seperti biasanya. Aku memilih untuk duduk lalu membakar sebatang rokok, untungnya ada yang tersisa yakni isi dari sebotol minuman. Tipis-tipis aku menyeruput dengan harapan dapat mengusir kegelihasan juga kecemasan itu.

Aku di dalam ruang ini, tempat dimana aku sering menyendiri juga berkelana, intinya paling ternyaman. Tapi akhir-akhir ini kenyamanan itu mulai pergi tanpa pamit. Dan pada momen-momen tertentu tinggal sunyi.

Kala itu, terang timbul agak lamban. Aku yang belum tertidur dengan baik, sebelum keluar dari pintu, adik perempuan saya mengucapkan selamat ulang tahun, dengan begitu cepat dan spontan dia lalu pergi. Seakan-akan aku sedang bermimpi, seketika itu cahaya matahari mulai masuk terlihat dari celah-celah dinding kayu lusuh.

Tanpa ucapan apapun dari keluarga lainnya. Aku bergegas, sebab mereka sibuk dengan urusan masing-masing, keluar dari pagi-pagi betul.

Layaknya bayi yang baru melihat dunia, aku begitu lemas rasa-rasanya tidak mau bergerak. Tapi ada daya, ada yang perlu diselesaikan. Seperti biasa masalah yang kadang membikin aku jengkel juga resah hari-hari ini, yakni ; soal berurusan dengan pelayan administrasi pada salah satu kampus, dimana tempat aku menimbah ilmu. Tetapi sayang yang ada hanya menimbah seribu, hingga ilmu pergi begitu saja. Tidak akan aku bahas soal ini di sini, mungkin nanti lain waktu.

Aku bergegas menuju kampus. Kembali lagi aku menunggu-nunggu orang yang bersangkutan. Hampir tiap hari, seperti mahasiswa baru yang penuh dengan semangat yang hendak menimbah ilmu. Amarah seketika itu mulai naik ke otak yang tak dapat lagi di kontrol. Walaupun kadang orang bilang menunggu itu indah atau “Sabar itu subur”, iya benar. Tetapi kali itu, bagi ku tidak akan berlaku, begitu lama.

Pulang menjadi jawaban yang tepat. Sesampai di rumah aku rebahkan badan dan menyalakan speaker dengan volume yang pas-pasan, belum juga dapat tidur. Terdengar alunan suara dari kejahuan dari adik-adikku yang menyanyikan lagu “Selamat ulang tahun” dengan membawa kue. Aku duduk, terdiam juga terharu setelah melihat kue hasil bikinan adik perempuan yang kedua, sederhana dengan berbentuk hati. Kita bersama nyanyi dan rayakan, walaupun apa adanya itu sudah berhasil membuat aku menangis dalam diam. Terlalu istimewah.

Adik perempuan kedua kembali mengejutkanku dengan memberikan sebuah bingkisan kado. Sebelum menebak isinya, dia lalu keluar dengan mengucapkan kembali, selamat ulang tahun kakak. Aku mulai membuka kado itu, eh tahu-tahu adik sedang melihat dari sela-sela jendela setelah aku membalikkan wajah padanya dia pun lari. Tidak tunggu lama dia kembali duduk disampingku. Aku keluarkan hape untuk foto kadonya sebelum membuka. Dengan sentak dia memeluk dan ajak berselfie, sederhana dengan ukuran bingkisan yang tidak terlalu besar, yang sudah bisa membuat aku ketahui isinya.

Tiba-tiba dengan cepat, adikku perempuan satunya datang. Setelah melihat isi kado dari adik perempuannya ; dia bilang adoo, kenapa hadianya itu. Harusnya yang lain, jangan rokok nanti kaka susah berhenti merokok kalau manjakan dengan itu, seketika itu kami pun tertawa, dan aku merespon itu dengan mengajak mereka dua untuk berselfie bersama.

******

Kampus, mampus lagi

Hari istimewah tak terasa berlalu dengan cepat. Besoknya aku kembali tentunya dengan membawa amarah yang sama pada urusan yang sama pula. Tunggu-menunggu sepertinya akan menjadi sahabatku.

Tapi kali ini agak sedikit berbeda. Ternyata ada seorang teman aku. Kita baru bertemu setelah terakhir kali tahun 2020 bulan Desember. Dia pun datang dengan tujuan yang sama. Syukur, aku tidak sendirian kali ini. Dan tentunya kita akan kembali bersetubuh dengan penantian yang tidak pasti di sini.

Matahari yang sedikit lagi di atas kepala. Penat dengan menunggu, kita lalu mendekati sebuah para-para pinang dari seorang pedagang asli Papua, milik mama orang Pantai. Yang sering jadi langganan saya, juga para mahasiswa lainnya pada umumnya. Kita hendak mengunyah dan memesan goreng, hitung-hitung mengisi perut yang sedari tadi kosong, akibat dari belum sarapan pagi hari.

Basa-basi dengan segala keresahan yang sedang terjadi juga yang akan terjadi. Eh tak lupa kami bahas mengenai calon teman hidup dan hal itu yang membikin kami berdua ketawa-ketiwi, entah karena apa. Intinya pembicaraan begitu hangat, di temani dengan sebatang rokok dan air es. Di saat bersamaan, teman dengan begitu cepat, merespon apa yang menjadi kebutuhan ku, setelah melihat hape yang sedang aku genggaman, layar pecah.

Nai (Teman) Ko pake saya punya hape sudah? Saya baru beli satu lagi, Katanya

Akh. Jawabku (Senang lapis, mau tapi malu) pikir saya

Tanpa basi-basi lagi. Dia lalu mengeluarkan hape dan memberikan padaku. Kemudian, aku teringat kala itu, saat kita mengikuti giat dari kampus di Kabupaten Deiyai, dua tahun lalu. Saat itu dia tidak memiliki hape android yang ada ditangannya hanya hape non-android,Nokia kayu. Kebetulan saya memiliki dua hape android, satunya saya langsung berikan padanya.

Berbuat baik tidak mesti berharap lebih di saat yang sama. Eh, betul saya lupa ucapkan terima kasih saat dia berikan hape, mungkin di sini tepat walaupun kurang terhormat. Terima kasih nai (teman).

Matahari mulai turun dengan pelan-pelan. Urusan kita, kembali lagi di bilang pending, dengan alasan yang kurang begitu tepat. Besok kembai cek lagi ya, kata salah satu petugas. Akh, amarah yang tadinya menyala tiba-tiba redup, tidak heran ada yang baru digengaman tangan. Setelah itu, aku mengajak dia untuk makan siang. Selesai makan, ucapan Koyao (Selamat/Bye-bye) memisahkan kita.

******

Kesanku pada umur, jiwaku tak lagi muda. Aku murka pada waktu yang menjadi batasan, murka pada hari yang menutup kesempatan.

Akhir dari tulisan ini. Terima kasih buat segalanya yang menyayangiku. Terutama kepada Tuhan dan juga Bapa Mama.

Kita akan selalu merayakan kebahagian juga kegelisahan dalam dunia yang fana. Tetap Semangat, selamat.

Perjalanan tanpa tujuan

IMG_20170604_130811
Photo by @yagu.photo

Lagi penat, pas tanpa urgensi bingung mau kemana tidak ada salahnya kalau dengan berkendara hanya modal bensin dengan tangki yang penuh, bisa jadi alternatif untuk mengisi waktu luang. Yah, walau tidak jelas tanpa arah dan tujuan tapi tak ada salahnyakan bila dicoba. Asal jangan sering-sering kenakan kendaraan. Sayang nanti trorotor khusus pejalan menangis karena sunyi tak di manjakan.

Lagi kere, di tambah lagi tak punya kendaraan. Jangan banyak pikir coba saja dengan manjakan kedua kaki untuk berjalan, lumayankan kurangi berat badan yang numpuk, selain itu dapat sehat. Bukan.

Jarang sekali orang yang berjalan kaki, padahal banyak trotoar pejalan masih sangat mulus dan bagus, yang belum tersentuh sama sekali. Paling istirahat kerja atau sholat Jumat yang akan memadai jalan-jalan sunyi itu. Hong-kong adalah anak sulung dari  salah satu Negara pejalan kaki terbanyak di dunia, sedangkan Indonesia adalah anak bungsu. Hello apa kabar indonesia ? bertanya pada zaman modern dan teknologi, yang kian dibutakan oleh konservatif.

Oups. selain itu, sebagai contoh Ibu kota DKI Jakarta dan sekitarnya. Eh apa di pinggiran Jakarta saja ya yang tidak ada trotoarnya? Apakah saya bisa katakan budaya jalan kaki ini sama dengan budaya membaca? Yang mana mayoritas orang Indonesia tidak terbiasa dengan keduanya.

Jalan tanpa tujuan adalah hal yang menarik, bukan hanya dapat di kenal tapi juga akan banyak mengenal. Seperti setiap rutinitas para warga masyarakat dengan berbagai macam aktivitas yang di lakukan, mulai dari berdagang sampai berkeliaran mencari nafkah dan lain-lain. Kenapa demikian, karena dengan begitu akan di perhadapkan dengan banyak hal yang menarik dan tak terduga.

Kamu bebas kemana saja, cuma sekedar lewat-lewat tanpa mampir pun jadi, asalkan mengabadikan tiap moment melalui sebuah (foto), biar itu sebagai bukti dari semua rasa yang dirasakan ketika itu. Boleh gunakan Kamera DSLR atau Handphone dan simpan dalam sak ingatan dan memori card.

Pergi ke tempat-tempat baru yang sama sekali belum pernah kamu kunjungi sebelumnya, hanya untuk menjelajah. Jangan ragu, Hidupkan GPS bagi yang berkendara motor, eh buat yang pake mobil juga bisa menggunakan GPS dengan handphone pintar atau smartphone. Bagi yang mengunakan kaki santai tak perlu repot-repot, jalan saja sesuka mata dan kemampuan kaki, menanyakan orang adalah GPSnya.

“Saya selalu tahu bahwa pada akhirnya saya akan mengambil jalan ini, tapi kemarin saya tidak tahu bahwa itu akan menjadi hari ini.”-Jepang Haiku

IMG_3464-02
Photo by Bmiw.yomiyo

Banyak dari tiap manusia memilih berencana sebelum berjalan, bahkan ada yang sudah merencanakan semua jauh-jauh hari. Ada pula orang yang suka berjalan tanpa berencana seperti jalan tanpa tujuan. Jangan salah, jalan tanpa tujuan ini sangat menyenangkan bila di nikmati, pergi tak tahu kemana arah yang pasti, asal dapat bahagiakan mata dan menyenangkan hati yang lagi risau pengaruh galau. Ousp, tapi itu bukan tipe saya.

Satu hal yang aku sadari, bahwa saat kita kembali, akan ada banyak pengorbanan yang terbuang, seperti sebuah langkah yang kita lewati. Namun, kadang kala, jalan kehidupan yang kita lalui, harus kita pilih sendiri dengan sebuah keyakinan diri. Karena sebuah kesempatan belum tentu hadir di tempat dan waktu yang sama.

Bukan sebuah pilihan yang tak pernah berpihak. Bukan sebuah kesempatan tak pernah hadir. Namun, sebuah keyakinan diri yang tak pernah berani tuk melangkah. Berjalan pada jarak yang jauh. Namun, tak pernah tahu waktu tuk pulang. Seperti sebuah langkah tersembunyi.

Aku tak pernah berpikir, jalan seperti apa yang telah aku tempuh. Aku berjalan pada sebuah jarak yang begitu jauh. Namun, aku tak pernah tahu, kemana arah dan tujuan itu. Aku berjalan, melewati setiap titik kehidupan. Aku tak pernah tahu, bahaya apa yang akan terjadi, akan seperti apa dan kemana arah tuk pulang, yang ku tahu saat itu, hanya satu, aku dapat menemukan arah itu.

Semakin aku berjalan dengan jarak yang jauh, tanpa aku sadari. Aku banyak melupakan berjuta tujuan yang telah aku rangkap. Awalnya, aku berpikir, sebuah jalan itu dapat menemukan sosok diriku. Namun, aku lupa, bahwa aku berjalan bukan untuk diriku sendiri.

“Ini adalah pilihan kita yang menunjukkan apa yang sebenarnya kita, lebih dari kemampuan kita.” -JK Rowling, Dari ini kita belajar bahwa pilihan jalan tanpa tujuan pun akan bermakna jika di bawa dengan kemampuan kita untuk berkarya.

Bahkan jalan tanpa tujuan juga di bayang-bayang kan kita dapat hasil Dari Melihat “Kita adalah apa yang kita bayangkan. Eksistensi kita terdiri dalam imajinasi kita tentang diri kita. Tragedi terbesar yang bisa menimpa kita adalah pergi tak terbayangkan. “-N. Scott Momaday

Dan pada akhirnya Anda akan tahu bahwa “Anda akan mengenali jalan Anda sendiri ketika Anda datang atasnya, karena Anda tiba-tiba akan memiliki semua energi dan imajinasi Anda butuhkan.” -Jerry Gillies

Hidup adalah perjalanan sementara. Sebelum sampai di titik akhir yang adalah misi setiap manusia untuk bisa menikmati tiap jengkal perjalanannya. Untuk bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, kita harus menentukan arah hidup dan menemukan maknanya. Nah, dengan itu jalan dan nikmatilah hidup serta bawa rasa syukur dalam kecapean sehingga perjalanan anda dapat berjalan dengan baik, di mana dan kapan pun itu.

Kurang dari saya, lebih dari Tuhan.

Berharganya kata Peduli

Peduli dengan sesama adalah memperhatikan dan memahami sesama manusia. Peduli terhadap sesama adalah hal manusiawi yang kini menjadi sikap langka yang harusnya di lestarikan. Di Era modern seperti ini masyarakat cenderung hidup individual terutama masyarakat di kota-kota besar. Hal ini di karenakan tuntutan hidup yang semakin tinggi dan Masyarakat berlomba – lomba untuk mengejar target agar hidupnya dapat lebih baik dari hidup orang lain.

Dapat diakui semangat dan daya juang tinggi untuk orang yang terdekat dan tersayang seperti keluarga. Di luar itu mereka tidak akan peduli. Niatnya mungkin baik, “Membahagiakan keluarga” tetapi kita hidup di dunia ini kan tidak selamanya dengan keluarga, tentu ada interaksi dengan masyarakat luar walaupun dalam pikiran kita mereka tidak berarti untuk kita.

Banyak dari mereka yang kurang peduli terhadap lingkungan dan mementingkan urusannya masing-masing. Hal ini dapat menimbulkan kesenjangan sosial dalam masyarakat. Padahal kepedulian terhadap sesama akan memberikan dampak positif tak hanya untuk orang di sekitarnya namun juga untuk diri kita sendiri. Rasa peduli dapat digunakan sebagai alat pemersatu.

Permasalahan yang dihadapi orang lain dengan tujuan kebaikan, memberikan kenyamanan kepada orang lain, dan saling berbagi yang sebaiknya dilakukan dengan tulus, tidak memandang martabat, derajat dan memilih – milih siapa yang akan di bantu, karena pada dasarnya semua derajatnya sama di mata Sang Pencipta. Namun sayangnya tidak jarang dari kita yang dimintai tolong akan menolak untuk membantu dan tidak jarang juga kita menghindari, contohnya saja Calon-calon atau partai – partai yang hendak mencari nama di mata masyarakat. Mereka membantu rakyat demi memperoleh kemenangan dan berjanji akan membantu lebih maksimal setelah menang.

Kenyataanya setelah menang mereka lupa dengan janji – janji manis yang dilontarkan, bahkan rakyat kecil di pinggiran dan daerah terpencil nyaris tak tersentuh. Sungguh ironis yang benar – benar terjadi di negeri ini. Padahal dari mereka yang kotor dan tidak berpakaian rapi yang membuat mereka menjadi pejabat atau penguasa besar. Tidak heran di butakan oleh uang yang bertaburan, sehingga lupa akan janji-janji manis itu.

225-ilustrasi_meme_praktik_korupsi_

Ilustrasi : Meme praktik politik

 

Tak ada rasa peduli ka kamu ? Jangan munafik dalam selimut Agama saja. bila taat dengan selimut yang kamu kenakan buktikanlah itu ? dengan menjawab dan dengar beberapa keluh kesah mereka. jangan biarkan mereka menangis di bawa hujan dan panas pengharapan yang tak kunjung mereka dapati.

 

Contoh lain yang tak jauh dari diri kita yaitu diri kita sendiri yang sebenarnya juga kurang miliki sikap peduli. Hal kecil seperti membuang sampah di jalanan merupakan sikap ketidakpedulian terhadap sesama pengguna jalan dan petugas kebersihan jalan. Padahal Mudah untuk dilakukan, namun mungkin efek dari Jaman now makanya masih saja bawa gengsi dan ego ke mana-mana, itulah faktor kemunduran anak-anak muda jaman sekarang, bukannya lihat hal semacam itu sebagai hal kecil  yang mestinya di lakukan, malah anggap hal itu besar dan memalukan untuk di lakukan.

buang sampah sembarangan denda 30 juta garuttoleran

Ilustrasi : Rebanas.com

 

Manusia yang di ciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna harusnya memiliki sikap kepedulian yang paling tinggi kepada sesamanya dan lingkungan. Namun demikian meskipun manusia makhluk yang paling sempurna, manusia tetap tidak akan bisa hidup sendiri. Manusia memiliki rasa saling ketergantungan yang sebaiknya diimbangi dengan rasa peduli yang di wujudkan dalam aksi nyata, bukan sekedar berkata “aku peduli” dan manusia haruslah manusiawi.

 

 

 

Sadarkan lewat karya 

Seseorang yang bernama stanly melakukan kebaikan melalui menggirim surat yg isinya kata-kata motivasi. Ia menggirim sebagai surat yang di beri nama dari sam worthington dan itu bukan saja ia kirim ke orang yang ia kenal saja itu bahkan ia kirim ke semua orang yang tidak ia kenal,

Singkat cerita meggy mendapatkan surat itu dan ia penasaran akan penulis surat itu dan kemudian meggy mencari tahu dgn memberitahu ibunya dan ibunya tidak mengenal orang tersebut dan ia pergi menanyakan ayahnya, ayahnya pun demikian. lalu meggy pergi ke kantor pos untuk menanyakan, dan disitu ia mendapatkan alamat tempat penggirim surat tersebut.

Lalu meggy pergi sesampainya disana ia menanyakan apakah ada orang yang bernama sam worthington, namun kata penjaga itu tak ada yg namanya sam worthington disini, lalu ia melihat org tua yg hendak memasuki kemarnya lalu meggy mengejarnya dan mengetok pintu kamar dan masuk lalu menanyakannya apakah kamu sam worthington dan org tua itu memberi tahu itu nama penaku. Lewat penaku aku melakukan kebaikan dgn mengirim surat-surat kesiapapun. dari itu meggy mulai mengerti dan berubah menjadi orang yang tahu akan apa yg harus ia lakukan berkat sam juga maikel teman meggy yang kecil dapat sembuh.

(Bernard R. Bernie Diamond 1922-2011)

Photo by film - The letter writter

Photo by film the letter writter