Sedih Yang Bisu

Pagi selalu memancarkan sinar lewat selah-selah pepohonan, dan terdapat senyum bisu yang tergeletak disana, di bawah kaki gunung dan pinggir sungai yang mengalir deras, air mata pun di paksa ikut arus. Dan disitulah titik keresahan yang hanya bisa dilihat dan didengar namun tak mampu untuk di rasakan berlanjut terus hingga kapan entahlah, hanya kesejukan alam bersama dingin yang dapat dinikmati.

Di bulan Damai ini.

Foto by : Yaguphoto

Sementara sedih yang sa rasakan setia menemani, padahal bulan ini sebagai bulan Damai kelahiran Yesus Kristus ke dalam Dunia yang mesti di rasakan oleh semua umat nasrani, Namun disini sa masih sedih, dari hutan ini sa hanya bisa dengar suara air, suara burung yang berkicau, suara angin yang sepoi. Sa yang lupa akan tempat tinggal. Lalu disini sa saksikan ada yang melahirkan anak dari memberi nama Pengungsi.

Ah siooo

Dari semua itu, sa hanya dapat bersyukur masih diberi Nafas untuk Hidup, walau dalam derita yang tertutup begitu rapi.


Selamat Hari Natal Papuaku dari kami di Hutan belantara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s